Universitas Surabaya (Ubaya) melalui Fakultas Bisnis dan Ekonomi (FBE) menjalin kolaborasi dengan industri keuangan untuk mendorong peningkatan literasi keuangan sekaligus mematangkan kesiapan kerja mahasiswa, khususnya di sektor perdagangan.
Dekan FBE Ubaya, Prof. Dr. Putu Anom Mahadwartha, mengatakan kampus memiliki peran penting sebagai penghubung antara dunia akademik dan industri keuangan. Menurutnya, keterlibatan praktisi diperlukan agar materi industri menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran mahasiswa. Pernyataan itu disampaikan di FBE Ubaya, Surabaya, Kamis (9/4/2025).
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui program Futures Trading Learning Program (FTLP) bersama PT Valbury Asia Futures dan Jakarta Futures Exchange (JFX). Putu menjelaskan, FTLP dirancang untuk membekali mahasiswa dengan pemahaman mengenai industri perdagangan berjangka komoditi, termasuk peran bursa dan pelaku usaha pialang.
Selain pembelajaran teori, mahasiswa juga akan mendapatkan pengalaman praktis melalui simulasi trading serta interaksi langsung dengan pelaku industri. Ia berharap, melalui interaksi itu mahasiswa dapat membedakan investasi yang sehat dengan spekulasi berisiko tinggi, sekaligus memahami standar profesionalisme di industri keuangan agar memiliki kompetensi praktis yang siap digunakan di dunia kerja.
Branch Manager PT Valbury Asia Futures Semarang, Ronald Chandra, menambahkan kerja sama ini membuka akses lebih luas bagi mahasiswa untuk memperoleh edukasi pasar keuangan berbasis praktik. Ia menyebut mahasiswa juga berpeluang magang di industri Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) guna meningkatkan literasi keuangan dan kesiapan berkarier.
Ronald menyampaikan implementasi program akan dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari pembentukan FTLP di lingkungan kampus hingga penyelenggaraan seminar, workshop, dan kelas trading yang didampingi praktisi dari Valbury maupun JFX. Ia berharap kerja sama ini dapat melahirkan talenta muda yang profesional dan kompeten serta berkontribusi bagi perkembangan industri keuangan di Indonesia, khususnya sektor PBK.
Selain penandatanganan nota kesepahaman, rangkaian kolaborasi juga diisi seminar bertajuk “Introduction to the Futures Industry” dengan narasumber Miftah Faridh Nasir selaku Investment Research Analyst dan Yazid Kanca Surya selaku Direktur Utama JFX.
Dalam paparannya, Yazid menekankan pentingnya pemahaman risiko di tengah tren investasi digital yang semakin marak di kalangan generasi muda. Ia mengingatkan investasi bukan cara instan meraih keuntungan, melainkan proses jangka panjang yang membutuhkan pemahaman, disiplin, dan pengelolaan risiko.
Ia berharap kolaborasi ini dapat memperkuat pemahaman investasi dan mematangkan kesiapan kerja di sektor perdagangan, sekaligus membantu mahasiswa agar tidak terjebak tren atau fenomena fear of missing out (fomo) dan mampu mengambil keputusan investasi berdasarkan literasi serta analisis yang tepat.