Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Minggu (12/4) bahwa angkatan laut Amerika Serikat akan mulai memblokade Selat Hormuz pada Senin (13/4) pagi waktu AS, setelah negosiasi dengan Iran untuk mengakhiri perang gagal mencapai kesepakatan.
Pemerintah AS menyatakan blokade akan diberlakukan secara imparsial terhadap kapal-kapal dari semua negara yang masuk atau keluar dari pelabuhan serta wilayah pesisir Iran. Kebijakan itu mencakup seluruh pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman. Namun, angkatan laut AS disebut tidak akan menghalangi kebebasan navigasi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz dari dan menuju pelabuhan non-Iran.
Trump juga menyampaikan bahwa AS akan mengambil tindakan terhadap setiap kapal di perairan internasional yang telah membayar bea masuk kepada Iran.
Menanggapi rencana tersebut, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran memperingatkan bahwa kapal militer AS yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata dan akan ditindak tegas. Pernyataan ini mengindikasikan meningkatnya risiko eskalasi konflik.
Perkembangan ini diikuti pelemahan sejumlah bursa saham Asia pada Senin (13/4). Indeks Nikkei turun 0,74% dan Hang Seng melemah 0,9%. Di AS, indeks futures S&P 500 turun 0,62% dan Nasdaq turun 0,65%.
Di pasar komoditas, harga minyak melonjak sekitar 7,9% ke kisaran US$102,7 per barel, sementara harga emas turun sekitar 1,1% ke sekitar US$4.737 per ons.
Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,56% ke level 7.500. Penguatan ditopang saham-saham konglomerasi seperti BRPT, BREN, dan TPIA, di tengah pelemahan saham perbankan besar dan saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BMRI, dan ASII. Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS relatif stabil dengan pergerakan -0,03% ke level 17.103.
Di sisi lain, Investment Strategist di Global X ETFs, Billy Leung, menilai terdapat kepercayaan bahwa dinamika yang terjadi merupakan bagian dari taktik negosiasi, serta pasar dinilai telah melewati puncak ketidakpastian. Dalam data pergerakan pasar yang sama, reaksi negatif bursa Asia dan indeks futures bursa AS tercatat terbatas dengan penurunan tidak lebih dari 1%, yang dinilai dapat mencerminkan keyakinan bahwa ruang negosiasi AS-Iran belum sepenuhnya tertutup.