BERITA TERKINI
Tren Utang Rumah Tangga Menguat Jelang Lebaran, Penulis Soroti Dampak Riba dan Serukan Evaluasi Sistem Ekonomi

Tren Utang Rumah Tangga Menguat Jelang Lebaran, Penulis Soroti Dampak Riba dan Serukan Evaluasi Sistem Ekonomi

Idulfitri kerap dimaknai sebagai puncak kemenangan spiritual setelah sebulan berpuasa. Namun, bagi sebagian keluarga di Indonesia, momen Lebaran justru datang bersamaan dengan tekanan ekonomi, termasuk beban utang yang meningkat.

Dalam tulisannya, Alin Aldini—anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok—menyoroti kecenderungan meningkatnya penggunaan layanan pinjaman selama Ramadhan dan Idulfitri. Ia merujuk data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menunjukkan penggunaan pinjaman online, multifinance, hingga gadai meningkat pada periode tersebut, sebagaimana diberitakan Antara pada 9 Maret 2026.

Menurutnya, fenomena ini tidak semata bersifat musiman, melainkan menggambarkan rapuhnya ketahanan ekonomi rumah tangga. Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, serta tekanan ekonomi global disebut mendorong pengeluaran naik, sementara pendapatan tidak bertambah seimbang. Dalam situasi itu, utang kerap dipilih sebagai jalan pintas, meski berisiko menimbulkan masalah berkepanjangan.

Ia juga menilai Lebaran dapat berubah menjadi tekanan sosial ketika tradisi seperti membeli pakaian baru, menyiapkan hidangan, dan kebutuhan mudik membentuk standar yang tidak selalu dapat dipenuhi semua keluarga. Dalam pandangannya, momen keagamaan di tengah sistem ekonomi kapitalistik kerap berubah menjadi peluang konsumsi, didorong iklan, promosi, dan paparan gaya hidup di ruang digital yang memicu belanja, termasuk melalui skema utang.

Di sisi lain, kemudahan akses pinjaman online dinilai memperdekat utang dalam kehidupan sehari-hari. Proses cepat tanpa prosedur rumit membuat dana dapat diperoleh dalam waktu singkat, namun ia mengingatkan adanya konsekuensi seperti bunga, denda berlapis, dan tekanan psikologis. Ketergantungan pada utang berbasis riba, menurutnya, dapat menjerat keluarga dalam lingkaran yang sulit diputus.

Alin menilai persoalan utang rumah tangga tidak bisa dilihat semata sebagai masalah individu, melainkan terkait persoalan sistemik. Ia berpendapat sistem ekonomi saat ini belum dirancang untuk menyejahterakan seluruh lapisan masyarakat, ditandai distribusi kekayaan yang timpang serta upah atau gaji yang tidak sejalan dengan kenaikan harga. Dalam kondisi tersebut, akses utang disebut lebih sering ditawarkan sebagai solusi cepat.

Dalam kritiknya terhadap kapitalisme, ia menilai negara cenderung berperan sebagai fasilitator utang, bukan penjamin kesejahteraan. Dampaknya, perputaran ekonomi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dinilai lebih banyak ditopang utang ketimbang pendapatan yang stabil.

Ia kemudian menawarkan perspektif ekonomi Islam sebagai alternatif. Menurutnya, sistem ekonomi Islam menekankan keseimbangan dan distribusi kekayaan yang lebih adil, dengan prinsip bahwa kekayaan tidak boleh berputar hanya di kalangan tertentu. Ia juga menekankan pentingnya stabilitas ekonomi, termasuk nilai mata uang dan harga barang, serta peran negara dalam mengontrol pasar, mencegah penimbunan, dan memastikan kebutuhan pokok tersedia dengan harga terjangkau.

Selain itu, ia menyatakan penyediaan lapangan kerja merupakan tanggung jawab negara dalam kerangka ekonomi Islam, sehingga utang tidak dijadikan solusi utama. Ia menambahkan, penerapan sistem ekonomi Islam memerlukan dukungan sistem politik yang sejalan dan kemandirian dari ketergantungan globalisasi dan liberalisasi ekonomi.

Pada bagian akhir, Alin mengajak menjadikan Idulfitri sebagai momentum refleksi agar perayaan tidak bergeser menjadi ajang konsumsi yang memicu utang. Ia menilai ketakwaan tidak hanya diwujudkan melalui ibadah personal, tetapi juga melalui sistem kehidupan yang adil dan menyejahterakan. Menurutnya, selama ketimpangan dan ketergantungan pada utang masih berlanjut, kebahagiaan Lebaran akan terus dibayangi kecemasan ekonomi.