Amerika Serikat disebut sebagai negara yang paling bertanggung jawab atas kerugian ekonomi global akibat krisis iklim, berdasarkan penelitian terbaru dari Stanford University yang dipublikasikan di jurnal Nature berjudul “Quantifying climate loss and damage consistent with a social cost of carbon”.
Dalam studi tersebut, emisi gas rumah kaca dari AS sepanjang 1990 hingga 2020 diperkirakan memicu kerusakan ekonomi di berbagai negara dengan total mencapai AS$10,2 triliun. Angka ini menempatkan AS di atas China yang menyebabkan kerugian sebesar AS$8,7 triliun, serta Uni Eropa dengan kerusakan senilai AS$6,42 triliun.
Penelitian ini menggunakan indikator Produk Domestik Bruto (PDB) untuk menelusuri bagaimana fluktuasi suhu memengaruhi sektor-sektor penting, mulai dari produktivitas kerja, kesehatan masyarakat, hingga ketahanan pangan.
Namun, temuan studi juga menunjukkan ironi: meski menjadi penyumbang beban ekonomi terbesar bagi dunia, AS pada saat yang sama mengalami kerugian finansial yang sangat besar akibat dampak iklim. Studi yang dipimpin Profesor Marshall Burke menyebutkan, selama periode tiga dekade tersebut, AS mencatat kerugian ekonomi mencapai AS$16,2 triliun—lebih tinggi daripada kerusakan global yang diperkirakan ditimbulkan oleh emisi AS sebesar AS$10,2 triliun.
Burke menjelaskan kepada Science Focus bahwa kondisi itu terjadi karena skala ekonomi AS yang relatif lebih besar dibandingkan proporsi emisinya terhadap total emisi global. Sekitar 25% dari dampak penurunan PDB yang disebabkan oleh emisi AS disebut terjadi di dalam negeri AS sendiri.
Meski demikian, beban kerugian tidak terbagi merata. Negara-negara berkembang disebut menanggung dampak yang lebih tidak proporsional. Laporan The Guardian menyatakan emisi AS menyebabkan kerugian sekitar AS$500 miliar bagi India dan AS$330 miliar bagi Brasil. Sementara itu, Uni Eropa disebut menanggung kerusakan sebesar AS$1,4 triliun akibat polusi dari AS.