BERITA TERKINI
Sorotan Ekonomi Global 3 April 2026: Ketahanan China, Tekanan Harga Pangan, dan Pergeseran Kebijakan Energi

Sorotan Ekonomi Global 3 April 2026: Ketahanan China, Tekanan Harga Pangan, dan Pergeseran Kebijakan Energi

Sejumlah perkembangan ekonomi global pada Jumat, 3 April 2026, menyoroti dampak lanjutan ketegangan geopolitik di Timur Tengah terhadap perdagangan, harga pangan, dan strategi energi, sekaligus memperlihatkan perubahan kebijakan di Asia serta rencana investasi besar di sektor kecerdasan buatan.

Dari China, indikator terbaru menunjukkan ekonomi tetap tangguh meski situasi geopolitik memanas. Sektor manufaktur dan jasa dilaporkan pulih secara bersamaan. Ekspor China juga mencatat pertumbuhan untuk pertama kalinya tahun ini, seiring permintaan yang berkelanjutan terhadap produk-produk terkait kecerdasan buatan (AI). Di pasar keuangan, saham-saham China disebut berkinerja lebih baik dibanding banyak pasar utama sejak akhir Februari 2026, periode ketika konflik AS-Israel dan Iran meletus.

Di sisi lain, tekanan terhadap biaya hidup kembali menguat melalui kenaikan harga pangan global. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) melaporkan indeks harga pangan rata-rata mencapai 128,5 poin pada Maret 2026, naik 3 poin atau 2,4% dibanding Februari. Indeks yang melacak pergerakan harga sereal, gula, daging, produk susu, dan minyak nabati itu mencatat kenaikan dua bulan berturut-turut, setelah sebelumnya mengalami penurunan selama lima bulan hingga Februari 2026. FAO mengaitkan kenaikan ini dengan dampak konflik di Timur Tengah.

Dinamika konflik juga mendorong negara-negara Teluk mempertimbangkan jalur ekspor energi alternatif di luar Selat Hormuz. Mereka disebut menilai opsi perluasan jaringan pipa minyak untuk mengurangi ketergantungan pada selat tersebut sebagai jalur pelayaran penting. Salah satu opsi yang mengemuka adalah pembangunan pipa yang menghubungkan Semenanjung Arab ke Mediterania melalui pelabuhan Haifa di Israel. Rencana ini dipandang sebagai langkah strategis untuk merestrukturisasi jaringan energi kawasan di tengah meningkatnya risiko geopolitik.

Masih terkait Selat Hormuz, Kementerian Perdagangan Tiongkok menyampaikan bahwa renminbi (RMB) digunakan untuk membayar biaya transit melalui jalur pengiriman energi tersebut. Pemberitahuan di situs web kementerian, yang mengutip laporan Lloyd's List, menyebut kapal membayar biaya sebesar US$2 juta kepada Iran untuk melintasi selat itu, dan pembayaran dapat dilakukan sepenuhnya dalam RMB. Setelah pengumuman tersebut, saham perusahaan penyedia layanan pembayaran lintas batas di China dilaporkan meningkat tajam.

Dari Jepang, pemerintah mengumumkan perubahan kebijakan beras menuju peningkatan produksi yang lebih selaras dengan permintaan aktual, disertai langkah baru untuk mencegah kekurangan pasokan. Pada rapat Kabinet 3 April, pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi menyetujui rancangan amandemen Undang-Undang tentang Pasokan dan Penetapan Harga Bahan Pangan Esensial yang Stabil untuk diajukan ke Parlemen. Tujuan utama RUU tersebut adalah mencegah kelebihan produksi, menandai pergeseran dari kebijakan sebelumnya yang mendorong peningkatan produksi untuk merespons kenaikan harga beras dalam beberapa tahun terakhir.

Di sektor teknologi, Microsoft mengumumkan rencana investasi 1,6 triliun yen (US$10 miliar) di Jepang selama empat tahun hingga 2029 untuk memperkuat infrastruktur AI dan komputasi awan. Ketua Microsoft Brad Smith menyebutnya sebagai investasi terbesar perusahaan di Jepang hingga saat ini. Fokus investasi tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga pengembangan sumber daya manusia dan penguatan keamanan siber.

Sementara itu di Eropa, Italia memutuskan menunda penutupan permanen pembangkit listrik tenaga batu bara hingga 2038, atau 13 tahun lebih lama dari tenggat semula. Kebijakan tersebut tercantum dalam rancangan undang-undang energi terbaru yang baru saja disahkan, dan menjadi bagian dari langkah pemerintah sayap kanan di bawah Perdana Menteri Giorgia Meloni untuk melonggarkan target iklim di tengah krisis energi yang memburuk akibat konflik Iran. Langkah Italia ini kontras dengan sejumlah negara anggota Uni Eropa lainnya, yang disebut memiliki infrastruktur energi terbarukan sebagai penyangga terhadap dampak pergeseran geopolitik.