Perkembangan ekonomi global pada 6 April 2026 diwarnai oleh meluasnya dampak konflik di Timur Tengah terhadap harga energi, inflasi, biaya produksi, hingga ketahanan pangan. Di saat yang sama, sejumlah kawasan mencatat dinamika tersendiri, mulai dari pasar IPO Hong Kong hingga prospek pertumbuhan ASEAN+3.
Di Amerika Serikat, para ekonom memperkirakan lonjakan harga bensin akan tercermin kuat dalam rilis data inflasi pekan ini. Indeks Harga Konsumen (CPI) untuk Maret 2026 diproyeksikan naik sekitar 1%, yang berpotensi menjadi kenaikan bulanan paling tajam sejak 2022. Proyeksi tersebut terkait dengan konflik di Iran yang mendorong harga bensin ritel naik sekitar US$1 per galon.
Gangguan di Selat Hormuz—yang disebut sebagai jalur pengiriman energi terpenting di dunia—turut menekan pasokan minyak global. Data terbaru menunjukkan ekspor minyak mentah melalui laut dari negara-negara Teluk (tidak termasuk Iran) pada Maret 2026 hanya 8,44 juta barel per hari, turun 49% dari 16,58 juta barel per hari pada bulan sebelumnya. Jalur alternatif dinilai belum mampu menutup kekurangan tersebut.
Tekanan konflik juga terasa pada aktivitas ekonomi non-minyak di Timur Tengah. Pada Maret 2026, gangguan perdagangan dan kenaikan biaya dilaporkan membuat sektor non-minyak di kawasan ini mengalami stagnasi. Indeks Manajer Pembelian (PMI) Uni Emirat Arab turun menjadi 52,9, terendah sejak Juli 2025. Di Kuwait, PMI merosot dari 54,5 menjadi 46,3, menandai kontraksi pertama dalam lebih dari setahun. Sementara itu, PMI Mesir turun menjadi 48, level terendah dalam hampir dua tahun.
Di Eropa, kenaikan harga pupuk menambah tekanan biaya bagi petani, seiring dampak konflik Timur Tengah terhadap harga gas. Dewan Produsen Wallonia di Belgia mencatat harga pupuk naik dari 350 euro per ton menjadi 500 euro per ton, sementara urea mendekati 700 euro per ton. Laporan Argus Fertilizers menyebut harga larutan nitrogen UAN di Prancis meningkat 24%, dan ekspor urea dari Mesir naik 63%. Meski sebagian petani masih memiliki stok, banyak yang harus membeli dengan harga lebih tinggi, yang berpotensi menambah biaya produksi.
Dari sisi kebijakan moneter, Bank Sentral Jepang (BoJ) memberi sinyal kehati-hatian terkait kemungkinan kenaikan suku bunga pada April 2026, di tengah risiko inflasi yang meningkat akibat konflik di Timur Tengah. Data pasar menunjukkan pelaku pasar memperkirakan probabilitas 66% BoJ akan menaikkan suku bunga bulan ini. Namun, inflasi inti Jepang pada Februari 2026 turun menjadi 1,6%—terendah dalam hampir empat tahun—yang dikaitkan dengan subsidi energi pemerintah. Meski Dana Moneter Internasional (IMF) mendesak BoJ melanjutkan kenaikan suku bunga, BoJ menekankan pemantauan pertumbuhan upah dan fluktuasi pasar untuk memastikan keberlanjutan target inflasi 2% sebelum mengubah kebijakan.
Di tingkat global, Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) memperingatkan meningkatnya risiko terhadap ketahanan pangan. Kepala ekonom FAO, Maximo Torero, menilai konflik yang berlangsung di Timur Tengah dapat memperbesar kerentanan terutama bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor makanan, pupuk, dan bahan bakar, khususnya mereka yang memiliki produksi domestik terbatas.
Di Asia Timur, Hong Kong menonjol lewat aktivitas pasar modal. Pada 5 April, Kepala Pejabat Keuangan Hong Kong (China), Chan Mo-po, menyatakan pasar IPO Hong Kong telah menghimpun lebih dari HK$103 miliar pada kuartal pertama 2026, dan menempati peringkat pertama di dunia.
China juga mengumumkan langkah kebijakan untuk mendorong e-commerce. Kementerian Perdagangan China bersama lima lembaga terkait menerbitkan “Pedoman untuk Melayani Ekonomi Riil dengan Lebih Baik dan Mendorong Pengembangan E-commerce Berkualitas Tinggi,” yang memuat arahan dan langkah untuk memperkuat peran e-commerce dalam ekonomi digital dan pertumbuhan berkelanjutan. Dokumen tersebut menekankan e-commerce sebagai sektor yang berkembang cepat, inovatif, dan menjadi pendorong baru bagi kekuatan produksi modern.
Sementara itu, meski ketidakpastian geopolitik berlanjut, ekspor makanan Korea Selatan ke Timur Tengah dilaporkan tetap meningkat. Sumber industri pada 6 April menyebut ekspor K-food ke kawasan tersebut pada kuartal pertama 2026 naik lebih dari 30% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara keseluruhan, Kementerian Pertanian, Pangan, dan Urusan Pedesaan (MAFRA) mencatat total ekspor makanan Korea Selatan pada Januari–Maret 2026 mencapai US$2,56 miliar, naik 4% dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari kawasan Asia Tenggara dan mitra, Kantor Riset Makroekonomi ASEAN+3 (AMRO) dalam laporan AREO 2026 yang dirilis 6 April memperkirakan pertumbuhan regional sebesar 4% pada 2026 dan 2027. Kepala ekonom AMRO, Dong He, menyatakan bahwa meskipun risiko meningkat akibat konflik di Timur Tengah, ASEAN+3 dinilai berada pada posisi lebih baik menghadapi guncangan energi berkat efisiensi penggunaan energi, ketergantungan yang lebih rendah pada minyak, inflasi yang rendah, serta ruang kebijakan yang masih tersedia untuk merespons.