Harga minyak dunia melonjak pada Minggu (13/9/2026) setelah Arab Saudi menutup jalur pipa minyak East-West menyusul serangan drone yang disebut diluncurkan dari Irak, di tengah eskalasi pertempuran dengan milisi Houthi di Yaman.
Penutupan jalur ekspor berkapasitas 7 juta barel per hari itu mendorong kenaikan harga minyak acuan. West Texas Intermediate (WTI) naik 2,8% menjadi 102,87 dolar AS per barel, sementara Brent menguat 3,1% ke 107,87 dolar AS per barel.
Pipa yang melintasi wilayah Kerajaan Arab Saudi tersebut ditutup sementara untuk mengantisipasi kerusakan setelah serangan drone menghantam wilayah Riyadh dan Madinah pada Kamis. Serangan itu dilaporkan menyebabkan beberapa orang luka-luka.
Menanggapi ancaman keamanan kawasan, otoritas Irak mengamankan peluncur drone di provinsi Maysan yang berbatasan dengan Iran. Militer Irak juga disebut bekerja sama dengan tim forensik dan intelijen Arab Saudi untuk melacak pelaku utama di balik serangan.
Kepala Komunikasi Keamanan Irak, Letnan Jenderal Saad Maan, mengatakan Irak menganut prinsip “kedaulatan preventif”. “Irak menganut prinsip 'kedaulatan preventif', yang berarti tidak hanya mencegah serangan di wilayah kami, tetapi juga tidak membiarkan tanah kami menjadi landasan peluncuran melawan negara lain, atau bagi Irak untuk menjadi bagian dari perang proksi,” ujarnya.
Gangguan jalur pasokan minyak ini turut berdampak pada agenda diplomasi regional. Pertemuan antara Iran dan negara-negara Arab Teluk yang semula dijadwalkan berlangsung di Salalah, Oman, ditunda di tengah kondisi Selat Hormuz dan Laut Merah yang kian memanas.
Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi menyatakan penundaan dilakukan demi mendorong tercapainya kesepakatan bersama. “Demi mencapai kesepakatan bersama, pertemuan regional yang dijadwalkan besok di Salalah telah ditunda. Kami tetap berkomitmen mendorong dialog yang mendukung stabilitas dan kerja sama jangka panjang di kawasan,” katanya.
Di sisi lain, eskalasi militer dilaporkan meluas setelah milisi Houthi melancarkan serangkaian serangan rudal dan drone ke pangkalan militer serta objek sipil Saudi, yang mengakibatkan lebih dari 70 orang terluka. Arab Saudi merespons dengan meluncurkan 58 serangan balasan ke wilayah Saada dan perbatasan Monabbih dalam kurun 24 jam.
Di tengah perkembangan tersebut, pernyataan yang dikutip dari Juru Bicara Militer Houthi, Yahya Saree, juga memuat kalimat serupa mengenai “kedaulatan preventif”.
Peningkatan agresi militer memicu kecaman internasional. Liga Muslim Dunia (MWL) menilai penargetan wilayah sipil di Al-Tuwal, Jazan, yang merusak fasilitas ibadah dan permukiman sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum kemanusiaan.
Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia, Sheikh Dr. Mohammed Al-Issa, menyampaikan kecaman atas serangan-serangan tersebut. “Menegaskan kembali kecamannya terhadap serangan-serangan ini yang melanggar nilai-nilai agama serta norma dan hukum kemanusiaan internasional,” katanya.
Pertempuran yang kembali berkobar sejak Juli 2026 disebut mengancam jalur pelayaran minyak global di Selat Bab el-Mandeb dan menyebabkan hampir 86 ribu warga sipil terpaksa mengungsi.