SURABAYA — Jaringan Pengusaha Nasional (JAPNAS) Jawa Timur menggelar Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) II di Novotel Samator Surabaya, Sabtu (11/4/2026). Forum ini menjadi ajang konsolidasi organisasi sekaligus perumusan langkah strategis menghadapi dinamika ekonomi global dan tantangan ekonomi di tingkat daerah.
Ketua Umum JAPNAS Jatim Mohammad Supriyadi menegaskan posisi Jawa Timur dinilai strategis dalam perekonomian nasional. Menurutnya, dinamika ekonomi di provinsi tersebut akan berpengaruh terhadap kinerja organisasi di tingkat pusat, sehingga Rakorwil menjadi momentum untuk memperkuat konsolidasi internal agar organisasi tetap relevan.
Supriyadi juga menyinggung upaya kebangkitan organisasi setelah aktivitas sempat melambat akibat pandemi COVID-19. JAPNAS Jatim, yang didirikan pada Februari 2018 di Surabaya, disebut terus menyusun strategi baru. Rakorwil II ini merupakan lanjutan dari pertemuan sebelumnya yang digelar di Sumenep.
Dalam sambutannya, Supriyadi menekankan pentingnya transformasi digital bagi pelaku usaha. Ia menilai dunia usaha yang tidak beradaptasi dengan teknologi akan kesulitan bertahan, serta mengutip pandangan Bill Gates mengenai peran teknologi sebagai penopang daya saing di era ekonomi modern.
Secara ekonomi, Supriyadi menyebut Jawa Timur menjadi kontributor terbesar kedua terhadap perekonomian nasional setelah DKI Jakarta. Ia menilai keunggulan Jawa Timur di sektor pertanian, manufaktur, dan pariwisata merupakan modal untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional.
Sementara itu, Ketua Harian PP JAPNAS Widiyanto Saputra menyampaikan bahwa kondisi ekonomi global turut berdampak pada daerah. Ia mencatat inflasi Jawa Timur mencapai 0,39 persen pada Maret 2026, dengan pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 4,7–5,7 persen. Widiyanto menilai diperlukan kerja lebih keras untuk mendukung target pertumbuhan nasional sebesar 8 persen.
Dari sisi investasi, realisasi di Jawa Timur disebut mencapai sekitar 8,1 persen dan melampaui target. Namun, forum juga menyoroti indikator industri yang perlu diwaspadai menyusul turunnya Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia menjadi 50,1 pada Maret 2026. Selain itu, peserta membahas peluang dari Program Makan Bergizi Gratis yang dinilai membuka ruang bagi pelaku usaha di sektor pangan dan logistik.
Sebagai tindak lanjut, JAPNAS Jatim dijadwalkan menggelar Musyawarah Wilayah (Musywil) II pada 31 Juli 2026 di Grand Mercure Malang Mirama. Agenda tersebut diharapkan menjadi pijakan untuk memperkuat struktur organisasi sekaligus memperluas jejaring hingga tingkat kabupaten dan kota guna mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.