BERITA TERKINI
Proyek AI “Stargate” Abu Dhabi Jadi Sorotan Geopolitik, Pasar AS Menguat Usai Gencatan Senjata Sementara

Proyek AI “Stargate” Abu Dhabi Jadi Sorotan Geopolitik, Pasar AS Menguat Usai Gencatan Senjata Sementara

Konflik geopolitik di Timur Tengah memasuki babak baru setelah Iran secara terbuka mengancam akan menargetkan proyek AI “Stargate” di Abu Dhabi, sebuah infrastruktur teknologi senilai US$30 miliar. Ancaman tersebut memperluas spektrum target strategis dalam konflik modern, tidak hanya menyasar fasilitas energi dan militer, tetapi juga infrastruktur digital seperti pusat data, cloud, dan proyek kecerdasan buatan.

Menurut laporan, ancaman disampaikan oleh pejabat Garda Revolusi Iran melalui video yang menampilkan simulasi lokasi proyek disertai peringatan bahwa infrastruktur teknologi, energi, dan perusahaan ICT yang memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat dan Israel dapat menjadi target bila eskalasi berlanjut. Peringatan itu dikaitkan dengan tekanan terhadap fasilitas energi Iran.

Proyek “Stargate” disebut menjadi pilar ambisi Uni Emirat Arab untuk memposisikan diri sebagai pusat AI dan cloud dunia. Ekosistem proyek ini melibatkan sejumlah pemain besar, termasuk OpenAI, Oracle, SoftBank, NVIDIA, Microsoft, AMD, dan Broadcom. Dengan keterlibatan perusahaan-perusahaan tersebut, risiko yang muncul dinilai tidak terbatas pada kawasan Timur Tengah, melainkan berpotensi merembet ke rantai pasok teknologi global.

Perkembangan ini mempertegas pergeseran dinamika konflik dari “energy war” menuju “infrastructure war”, ketika aset digital—mulai dari data center hingga infrastruktur AI—kian dipandang setara strategisnya dengan minyak dan energi. Dalam konteks ini, infrastruktur AI tidak lagi semata sektor ekonomi, melainkan menjadi bagian dari kalkulasi keamanan dan geopolitik.

Di pasar keuangan, sentimen mereda sementara setelah pada 8 April 2026 pasar saham Amerika Serikat melonjak tajam menyusul pengumuman Presiden AS tentang gencatan senjata sementara selama dua minggu dengan Iran. Reli “risk-on” mendorong Dow Jones naik lebih dari 1.300 poin atau sekitar 2,9%.

Sejalan dengan itu, harga minyak Brent dan WTI dilaporkan anjlok 13–15%—penurunan harian terbesar sejak 2020—setelah Iran menyetujui pembukaan kembali Selat Hormuz. Meski demikian, kesepakatan tersebut bersifat sementara dan dinilai belum menjamin stabilitas jangka panjang, sehingga potensi volatilitas tetap tinggi bila konflik kembali memanas.

Pada akhir pekan, World Bank memperingatkan konflik Timur Tengah dapat memangkas pertumbuhan ekonomi global sekitar 0,3%–1% tergantung durasi dan intensitasnya, sekaligus mendorong inflasi lebih tinggi. Harga energi sempat dilaporkan naik lebih dari 50% sejak awal eskalasi, memunculkan kekhawatiran risiko stagflasi—kombinasi pertumbuhan yang melambat dan inflasi yang tinggi.

Dalam situasi tersebut, pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS akan lebih berhati-hati menurunkan suku bunga. Narasi “higher for longer” berpotensi menekan valuasi saham, terutama di sektor growth dan teknologi.

Di sisi pergerakan saham, sejumlah emiten menjadi perhatian. Delta Air Lines melaporkan kinerja kuartal I yang solid dengan EPS sekitar US$0,64 dan pendapatan sekitar US$14,2 miliar, melampaui ekspektasi. Namun, panduan kuartal II berada sedikit di bawah perkiraan pasar (EPS US$1,00–US$1,50 dibanding estimasi US$1,56), mencerminkan sensitivitas profitabilitas maskapai terhadap biaya bahan bakar di tengah volatilitas energi.

Sektor perbankan juga disorot menjelang rilis kinerja kuartal I, dengan ekspektasi peningkatan laba pada bank besar seperti JPMorgan dan Goldman Sachs yang didorong net interest income tinggi serta kenaikan aktivitas investment banking, khususnya M&A. Namun, ketidakpastian akibat konflik Iran berpotensi memengaruhi volatilitas pasar, inflasi, dan arah kebijakan moneter, sehingga perhatian investor diperkirakan tertuju pada panduan 2026 terkait pertumbuhan kredit dan kualitas aset.

Sementara itu, saham Apple tertekan setelah laporan menyebut adanya hambatan pengembangan produk baru seperti foldable iPhone yang berpotensi menunda salah satu jalur inovasi. Sentimen tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa perusahaan masih tertinggal dalam gelombang AI dan inovasi perangkat keras dibanding pesaing, sehingga meningkatkan risiko perlambatan pertumbuhan jangka menengah.

Di sektor semikonduktor, Broadcom menguat setelah dilaporkan terlibat dalam pengembangan chip AI kustom untuk Google, memperdalam eksposur perusahaan ke ekosistem hyperscaler. Langkah ini dinilai memperkuat posisi Broadcom dalam infrastruktur AI, termasuk tren custom silicon yang kian berkembang di kalangan perusahaan teknologi besar.

Adapun saham Amazon melonjak lebih dari 5% dalam satu sesi sebagai bagian dari reli pasar yang dipicu harapan gencatan senjata AS–Iran. Kenaikan ini dinilai lebih dipengaruhi faktor makro dan pergeseran risk appetite ketimbang perubahan fundamental jangka pendek.

Dalam kinerja mingguan indeks pasar AS, sejumlah saham teknologi mencatat penguatan menonjol. Intel naik 35,43%, diikuti Teradyne 26,89%, Monolithic Power Systems 26,30%, Lam Research 26,25%, dan Marvell 25,60%.