Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak hanya berfungsi sebagai kebijakan sosial untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga berpotensi menjadi instrumen strategis yang mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Program ini dipandang dapat menghasilkan efek berganda, mulai dari peningkatan kesejahteraan hingga penguatan sektor riil, seiring kebutuhan pembangunan yang mengintegrasikan aspek sosial dan ekonomi.
Dari sisi fiskal dan makroekonomi, MBG disebut memiliki potensi menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan aktivitas ekonomi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai program ini mampu menyerap hingga satu juta tenaga kerja. Ia juga merujuk pendekatan perhitungan yang lazim digunakan Badan Pusat Statistik, yakni setiap pertumbuhan ekonomi sebesar 1% berpotensi menyerap sekitar 450 ribu tenaga kerja. Dengan implementasi yang optimal, MBG diperkirakan dapat membantu menurunkan pengangguran dan meningkatkan produktivitas, meski terdapat dinamika perpindahan tenaga kerja dari sektor lain.
Selain dampak terhadap pasar tenaga kerja, MBG juga dinilai dapat memperkuat permintaan domestik. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Rachmat Pambudy menyebut program ini sebagai game changer bagi pertumbuhan ekonomi karena tidak hanya mendorong konsumsi, tetapi juga memperkuat sisi produksi secara bersamaan. Dalam kerangka tersebut, program dipandang mencerminkan pergeseran dari sekadar ketahanan pangan menuju kedaulatan pangan yang lebih berorientasi jangka panjang.
Melalui skema penyediaan makanan, pemerintah dinilai turut menciptakan pasar yang lebih pasti bagi produk pangan, terutama dari sektor pertanian dan peternakan. Kepastian permintaan tersebut disebut dapat meningkatkan pendapatan produsen lokal serta memperkuat rantai ekonomi dari hulu hingga hilir, yang pada akhirnya berkontribusi pada pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Permintaan besar yang dihasilkan program, termasuk kebutuhan tambahan susu dan daging sapi dalam jumlah signifikan hingga beberapa tahun ke depan, dipandang sebagai sinyal bagi dunia usaha dan investor. Stabilitas permintaan ini dinilai berpotensi mendorong ekspansi produksi, investasi baru, serta inovasi di sektor pertanian dan peternakan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut diharapkan dapat memperkuat struktur ekonomi nasional melalui pengurangan ketergantungan impor dan peningkatan nilai tambah domestik.
MBG juga disebut dapat mendorong transformasi sektor peternakan yang selama ini didominasi peternak skala kecil dengan produktivitas relatif rendah. Pemerintah disebut berupaya meningkatkan kualitas dan skala produksi dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk sektor swasta dan akademisi. Salah satu contoh yang disebut adalah pengembangan ternak berbasis teknologi genomik untuk menghasilkan sapi unggul yang lebih produktif dan lebih tahan penyakit.
Meski demikian, implementasi MBG dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan sumber daya, tingginya biaya produksi, serta ancaman penyakit hewan. Karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan lembaga penelitian agar hambatan dapat diatasi dan manfaat program dapat dirasakan lebih merata.
Dari sisi sosial, peningkatan kualitas gizi masyarakat—terutama anak-anak—dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan daya saing bangsa. Dengan demikian, MBG dinilai bukan hanya stimulus ekonomi jangka pendek, melainkan juga bagian dari strategi pembangunan manusia yang berkelanjutan.
Secara keseluruhan, MBG dipandang sebagai kebijakan multidimensi yang menggabungkan aspek sosial, ekonomi, dan pengembangan industri pangan dalam satu kerangka. Dengan pelaksanaan yang konsisten serta dukungan para pemangku kepentingan, program ini disebut berpotensi menjadi salah satu pilar pendorong pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperluas pemerataan kesejahteraan.