JAKARTA — Data ekonomi terbaru menunjukkan perekonomian Indonesia masih berada dalam tren positif. Indikator seperti Purchasing Managers’ Index (PMI) dan neraca perdagangan dinilai menguat, sehingga isu pelemahan ekonomi disebut tidak memiliki dasar yang kuat.
Dalam sambutan di Kompleks Istana Negara, disampaikan bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih baik dengan dukungan sejumlah indikator, termasuk PMI dan neraca perdagangan.
Dari sisi manufaktur, PMI Indonesia pada Februari 2024 tercatat 53,6, meningkat 1,7 poin dibanding bulan sebelumnya. Angka di atas 50 menandakan ekspansi, dan capaian Februari menjadi yang tertinggi dalam 11 bulan terakhir.
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa meski nilai tukar Rupiah sempat berfluktuasi, fundamental ekonomi dinilai tetap kuat. Ia menyebut pertumbuhan ekspor, cadangan devisa, serta kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) turut menopang stabilitas mata uang.
Airlangga juga menekankan pentingnya mendorong ekspor. Menurutnya, upaya deregulasi dilakukan agar perizinan lebih mudah sehingga arus impor dan ekspor dapat berjalan lebih lancar.
Sementara itu, Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia Solikin M. Juhtegaro menegaskan bahwa situasi saat ini berbeda dengan krisis moneter 1998. Dalam konferensi pers di Kantor Pusat BI, ia menyatakan kondisi ekonomi masih jauh dari krisis yang pernah terjadi.
Solikin menyampaikan data yang menunjukkan perekonomian tumbuh 5,02% sepanjang 2024, dengan inflasi tahunan berada di 1,57%. Ia juga membandingkan Indonesia dengan negara lain seperti Vietnam dan India yang mencatat pertumbuhan tinggi, namun menghadapi inflasi yang lebih tinggi.
Dari sisi ketahanan eksternal, porsi utang luar negeri Indonesia disebut masih terkendali, sekitar 30% dari PDB, lebih rendah dibanding Malaysia yang mencapai 69%.
Meski Rupiah sempat melemah akibat dinamika geopolitik global dan kebijakan tarif dari Amerika Serikat, Bank Indonesia menegaskan fondasi ekonomi Indonesia tetap kokoh.