Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong memperingatkan bahwa dunia berada di ambang krisis energi global di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah. Dalam pernyataan resmi pada 2 April 2026, Wong menilai konflik tersebut tidak lagi bersifat regional karena dampaknya telah merembet ke sistem ekonomi global.
Menurut Wong, konflik berlangsung di berbagai lini, tidak hanya melalui serangan militer yang berkelanjutan, tetapi juga lewat gangguan serius pada jalur distribusi energi dunia. Salah satu titik yang disorot adalah Strait of Hormuz, jalur strategis yang selama ini menjadi rute penting pengiriman minyak dan gas global.
Aliran minyak dan LNG melalui selat itu dilaporkan turun drastis. Gangguan tersebut disebut tidak hanya memengaruhi pasokan energi, tetapi juga distribusi komoditas lain seperti pupuk dan helium, sehingga berpotensi menimbulkan efek lanjutan pada sektor pangan global.
Dampak ekonomi mulai terlihat dari lonjakan harga minyak dunia yang meningkat lebih dari 60% sejak konflik dimulai. Tekanan pada rantai pasok global pun kian terasa, sementara negara-negara di Asia yang sangat bergantung pada impor energi dinilai menjadi kelompok paling rentan.
Di sisi geopolitik, situasi disebut masih penuh ketidakpastian. Upaya diplomasi terus berjalan, namun perbedaan kepentingan para pihak belum menemukan titik temu.
Amerika Serikat disebut ingin mengakhiri konflik secepat mungkin, termasuk mempertimbangkan skenario penghentian konflik tanpa kesepakatan damai formal. Salah satu opsi yang disebut adalah meningkatkan serangan militer sebelum menghentikan operasi.
Namun, meski gencatan senjata tercapai, dampaknya diperkirakan tidak akan langsung hilang. Kerusakan pada infrastruktur energi membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih, sehingga harga energi berpotensi tetap tinggi dalam jangka menengah.
Risiko eskalasi juga dinilai masih terbuka, termasuk kemungkinan keterlibatan kelompok lain seperti Houthi yang didukung Iran. Keterlibatan tersebut dapat membuka front baru dan mengganggu jalur pelayaran penting lainnya, termasuk Laut Merah.
Jika gangguan berlanjut, dunia berpotensi menghadapi krisis energi global secara penuh, bukan hanya ditandai oleh kenaikan harga, tetapi juga perlambatan aktivitas produksi. Dalam skenario terburuk, kondisi ini dapat mengarah pada stagflasi, yakni ketika ekonomi melambat sementara harga terus naik, yang dapat menekan daya beli masyarakat sekaligus menghambat pertumbuhan ekonomi.