Fenomena Pinkan Mambo yang kini aktif melakukan live streaming sekaligus berjualan di platform digital dinilai mencerminkan perubahan besar dalam industri hiburan dan dunia usaha di Indonesia. Aktivitas tersebut menunjukkan bagaimana teknologi digital mengubah cara figur publik membangun pasar dan menjangkau konsumen secara langsung.
Sekretaris Jenderal BPP Hipmi, Anggawira, menyebut langkah Pinkan Mambo sebagai bentuk adaptasi positif terhadap perubahan perilaku konsumen, perkembangan teknologi, serta pergeseran pola bisnis di era ekonomi kreatif. Menurutnya, ketergantungan artis pada televisi, panggung, label rekaman, atau event organizer kini tidak lagi menjadi satu-satunya jalur untuk membangun penghasilan.
“Dulu seorang artis bergantung pada televisi, panggung, label rekaman, atau event organizer. Hari ini, siapapun bisa langsung membangun pasar sendiri melalui live streaming, media sosial, dan platform digital. Apa yang dilakukan Pinkan Mambo menunjukkan bahwa figur publik pun harus adaptif terhadap perubahan zaman,” ujar Anggawira dalam keterangannya, Jumat, 3 April 2026.
Anggawira menilai, maraknya TikToker, live seller, affiliate marketer, dan content creator yang mampu meraih omzet ratusan juta hingga miliaran rupiah per bulan menjadi bukti bahwa ekonomi digital telah membuka ruang usaha baru yang besar. Ia mengatakan, banyak pelaku usaha baru muncul dari aktivitas live streaming dengan ragam produk dan layanan yang ditawarkan.
“Sekarang banyak pelaku usaha yang justru lahir dari live streaming. Ada yang menjual makanan, fashion, kosmetik, elektronik, hingga jasa. Penghasilannya tidak kalah dengan bisnis konvensional. Ini menunjukkan bahwa ekonomi digital bukan lagi pelengkap, tetapi sudah menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi baru,” katanya.
Hipmi memandang tren tersebut sebagai momentum bagi UMKM, generasi muda, dan pelaku usaha di daerah untuk lebih berani masuk ke ekosistem digital. Anggawira menekankan bahwa live streaming dan jualan online tidak semestinya dipandang sebagai aktivitas kecil, karena pelaku yang konsisten dan mampu membangun kepercayaan konsumen berpeluang meraih omzet tinggi.
“Kita tidak boleh lagi memandang live streaming atau jualan online sebagai sesuatu yang kecil. Hari ini, seorang penjual yang konsisten melakukan live, punya storytelling yang baik, mampu menjaga kepercayaan konsumen, dan memahami algoritma platform bisa memiliki omzet lebih besar dibanding toko fisik,” lanjutnya.
Meski demikian, Anggawira mengingatkan bahwa bisnis digital tetap membutuhkan fondasi usaha yang kuat. Ia menilai pelaku usaha tidak seharusnya hanya mengandalkan viralitas sesaat, agar keberlanjutan bisnis dapat terjaga.