PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mempercepat pengembangan lapangan minyak dan gas bumi (migas) di tengah ketidakpastian geopolitik global dan fluktuasi harga minyak. Percepatan ini disebut sebagai bagian dari strategi untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Komitmen tersebut disampaikan Direktur Pengembangan dan Produksi PHE, Mery Luciawaty, dalam Offshore Technology Conference (OTC) Asia 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia. Dalam forum itu, Mery menyatakan percepatan pengembangan lapangan migas bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan.
“Di tengah ketidakpastian global, percepatan ini menjadi langkah strategis untuk memastikan pasokan energi tetap terjaga bagi masyarakat dan industri,” ujar Mery.
Saat ini PHE mengelola 20 basin dengan total produksi sekitar 1 juta barel setara minyak per hari. Produksi tersebut disebut menyumbang sekitar 65% produksi minyak nasional dan 36% produksi gas nasional.
Meski demikian, PHE menghadapi sejumlah tantangan operasional. Penurunan alami produksi (decline rate) tercatat mencapai 24% untuk minyak dan 21% untuk gas. Selain itu, sekitar 65% fasilitas produksi PHE telah beroperasi lebih dari 30 tahun sehingga memerlukan perhatian lebih dalam aspek keandalan dan keselamatan operasi.
Tekanan biaya juga meningkat seiring banyaknya lapangan yang telah memasuki fase matang. Kondisi ini mendorong kebutuhan penggunaan teknologi lanjutan seperti enhanced oil recovery (EOR), termasuk steamflood dan chemical EOR, yang dinilai lebih mahal dibanding metode konvensional.
Tantangan lain datang dari lapangan gas yang berada di wilayah terpencil atau stranded gas. Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, PHE mempertimbangkan penerapan solusi teknologi seperti gas to liquid (GTL) dan mini LNG agar pengembangan tetap ekonomis.
PHE juga mendorong inovasi pada berbagai area, mulai dari pengembangan laut dalam (deepwater), migas nonkonvensional, hingga penerapan teknologi carbon capture, utilization and storage (CCUS) sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
Untuk mempercepat produksi, perusahaan mengandalkan pematangan proyek sejak dini serta pengembangan lapangan marginal secara terintegrasi dan efisien.
Di tingkat global, PHE melanjutkan ekspansi melalui anak usahanya PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) yang mengelola aset di Aljazair, Irak, dan Malaysia. PHE juga memiliki saham mayoritas di Maurel & Prom yang beroperasi lintas benua.
Dengan rangkaian strategi tersebut, PHE menyatakan optimistis dapat meningkatkan produksi sekaligus mendukung target swasembada energi nasional. “Dengan kapabilitas organisasi yang kuat, kemitraan strategis, serta dukungan kebijakan fiskal yang kompetitif, kami yakin dapat terus mengoptimalkan pengembangan migas nasional,” kata Mery.
Selain fokus pada kinerja bisnis, PHE juga menegaskan komitmennya terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), termasuk penerapan standar anti-penyuapan ISO 37001:2016.