PT Pertamina (Persero) menyiapkan lima strategi untuk menjaga pertumbuhan bisnis di tengah gejolak global yang berpotensi memengaruhi pasokan dan harga energi dunia. Strategi tersebut tertuang dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026 yang akan menjadi acuan perusahaan menghadapi volatilitas di sektor energi.
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengatakan 2025 menjadi periode yang penuh tantangan, mulai dari tekanan ekonomi global, volatilitas harga energi, hingga kompleksitas operasional yang meningkat. Meski demikian, ia menegaskan Pertamina tetap menjalankan perannya dalam menopang kebutuhan masyarakat.
Dalam keterangan resmi pada Jumat (10/4), Simon menyampaikan RKAP 2026 disusun dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global yang dinilai dapat mendisrupsi sektor energi dan perekonomian dunia. Ia menyinggung konflik di kawasan Timur Tengah serta meningkatnya tekanan di jalur strategis seperti Selat Hormuz yang turut memicu volatilitas pasokan dan harga energi global.
Simon merinci lima strategi utama yang akan dijalankan perusahaan. Pertama, menjaga disiplin biaya secara ketat di seluruh lini operasi. Kedua, memastikan operasional perusahaan semakin andal dan efisien. Ketiga, menjalankan investasi secara selektif dengan fokus pada proyek-proyek yang dinilai benar-benar strategis. Keempat, membangun organisasi yang lebih lincah dalam merespons perubahan. Kelima, mendorong inovasi sebagai kebutuhan utama untuk menghadapi dinamika bisnis energi.
Ia juga menyebut Pertamina berupaya memanfaatkan tantangan geopolitik sebagai peluang, antara lain melalui efisiensi dan peningkatan operasional, termasuk utilisasi kilang. Dengan langkah tersebut, Pertamina menargetkan pertumbuhan volume penjualan produk energi berkualitas.
Menurut Simon, di tengah situasi global yang makin kompleks, peran Pertamina sebagai penopang ketahanan energi nasional menjadi semakin penting. Ia menekankan bahwa fokus perusahaan pada 2026 tidak hanya terkait pertumbuhan, tetapi juga ketahanan, keandalan, dan kedaulatan energi nasional.
Sementara itu, Komisaris Utama Pertamina Mochamad Iriawan menyatakan ketahanan energi menjadi prioritas utama perseroan. Dalam jangka pendek, ia menegaskan komitmen perusahaan untuk menjaga pasokan energi guna memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia. Iriawan menilai kondisi saat ini bukan situasi normal dan menjadi ujian bagi perusahaan, sehingga respons Pertamina harus dilakukan secara maksimal.