Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) memiliki risiko lebih besar terhadap gejolak harga di pasar. Menurutnya, struktur kepemilikan yang terpusat membuat pergerakan harga saham menjadi lebih sensitif terhadap aksi jual, terutama ketika terjadi perubahan sentimen atau pergerakan dari pemegang saham utama.
Reydi menjelaskan, saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi lebih mudah mengalami panic selling apabila pemegang saham besar mulai melepas sebagian kepemilikannya. Aksi tersebut kerap dibaca sebagai sinyal negatif oleh investor lain dan dapat memicu aksi jual lanjutan.
“Saham dengan konsentrasi tinggi juga lebih rentan panic selling, terutama ketika pemegang saham besar melepas sebagian kepemilikannya atau muncul sentimen negatif. Karena free float kecil, tekanan jual sedikit saja bisa berdampak besar ke harga,” kata Reydi, Kamis (9/4/2026).
Ia menambahkan, kepemilikan yang tidak merata dapat membatasi likuiditas saham. Dalam kondisi tersebut, tekanan jual dalam jumlah relatif kecil sekalipun berpotensi memicu penurunan harga yang signifikan. Selain itu, sentimen negatif dari faktor internal perusahaan maupun kondisi eksternal pasar disebut dapat mempercepat aksi jual secara masif, sehingga volatilitas harga dapat meningkat tajam dalam waktu singkat.
Reydi menilai saham HSC cenderung lebih cocok untuk strategi jangka pendek dibanding investasi jangka panjang, kecuali investor memiliki pemahaman mendalam mengenai fundamental perusahaan dan struktur kepemilikannya. “Saham HSC lebih cocok untuk strategi jangka pendek daripada investasi jangka panjang, kecuali investor benar-benar memahami fundamental dan struktur kepemilikannya. Ini bukan sekadar high risk high return, tapi ketidakpastiannya juga sangat tinggi,” ujarnya.
Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) merilis daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi pada penutupan perdagangan Kamis (2/4/2026). Pelaksana tugas Direktur Utama PT BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan publikasi HSC merupakan praktik yang juga diterapkan di sejumlah bursa global, termasuk Hong Kong Stock Exchange, sebagai respons atas isu konsentrasi kepemilikan saham.
Menurut Jeffrey, pengumuman HSC bertujuan memberi gambaran kepada publik mengenai tingkat kepemilikan saham yang terpusat pada pihak tertentu. Informasi ini diharapkan membantu investor mempertimbangkan keputusan investasi secara lebih matang.
“HSC merupakan pengumuman kepada publik di mana terdapat kepemilikan saham kuasa pusat saham yang terkonsentrasi pada sejumlah persentil penghubungan saham,” kata Jeffrey dalam Konferensi Pers dan Sosialisasi Capaian Reformasi Transparansi Pasar Modal Indonesia di Gedung Bursa Efek Indonesia, Kamis (2/4/2026).
Ia menegaskan, status HSC tidak otomatis mencerminkan adanya pelanggaran di pasar modal, termasuk terkait ketentuan free float. “Nanti ada pertanyaan kalau terkonsentrasi sekian persen, apakah tidak memenuhi ketentuan free float. Jawabannya, tidak otomatis menunjukkan adanya pelanggaran apapun di bidang pasar modal,” ujarnya.