Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan program Sahabat Ibu Cakap Literasi Keuangan Syariah (Sicantiks) yang menyasar perempuan. Program ini ditujukan untuk memperkuat kemampuan mengelola keuangan, yang dinilai berpengaruh langsung terhadap kesejahteraan keluarga.
Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Kotim, Rafiq Riswandi, mengatakan pengelolaan keuangan merupakan keterampilan dasar yang perlu dimiliki semua kalangan. Ia menekankan peran perempuan yang kerap menjadi pengatur utama anggaran rumah tangga.
“Terutama perempuan yang sering kali menjadi menteri keuangan di rumah, yang bertugas mengatur anggaran rumah tangga,” kata Rafiq saat membuka sosialisasi Sicantiks dalam rangka Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah Tahun 2026. Kegiatan tersebut diinisiasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Tengah dan digelar di lantai II Kantor Bupati Kotim, Sampit.
Sosialisasi ini menyasar antara lain ibu-ibu Persit, Bhayangkari, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perempuan. Kegiatan melibatkan narasumber dari Bank Indonesia dan lembaga jasa keuangan setempat.
Rafiq menyampaikan, literasi keuangan menjadi bekal masyarakat dalam mengambil keputusan yang tepat, menghindari risiko, serta menjaga kesehatan keuangan keluarga. Menurutnya, pemahaman yang baik juga membantu keluarga merencanakan masa depan, termasuk kebutuhan anak-anak.
“Apabila para ibu memahami keuangan dengan baik, dampaknya akan terasa langsung ke keluarga. Bahkan manfaat pemahaman finansial tersebut akan terus berlanjut hingga ke generasi berikutnya,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi masyarakat di tengah banyaknya tawaran investasi yang tidak jelas, termasuk penipuan digital dan risiko keuangan lain. Rafiq menilai, sebagian masyarakat sudah menggunakan layanan keuangan, namun belum memahami manfaat maupun risikonya. Karena itu, ia menilai program Sicantiks relevan bagi masyarakat, khususnya pelaku UMKM perempuan.
“Usaha yang berkembang bukan hanya karena produk yang bagus, tetapi juga karena pengelolaan keuangan yang rapi dan pengambilan keputusan yang tepat,” kata Rafiq.
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan lebih bijak dan selektif dalam memilih produk keuangan serta waspada terhadap tawaran investasi yang legalitasnya tidak jelas. Peserta juga didorong menjadi agen literasi keuangan di lingkungan masing-masing dengan membagikan pengetahuan kepada keluarga, teman, hingga komunitas.
“Apa yang didapatkan hari ini, bisa dibagikan kepada keluarga, teman, dan komunitas, sehingga dampaknya akan terasa lebih masif dan berguna bagi sesama,” tutur Rafiq.
Sementara itu, Kepala OJK Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, menjelaskan perbedaan literasi dan inklusi keuangan. Menurutnya, literasi berkaitan dengan pemahaman, sedangkan inklusi mengacu pada pemanfaatan produk dan layanan jasa keuangan.
Ia juga memaparkan tugas dan fungsi OJK yang dirangkum dalam 3M, yakni Mengatur, Mengawasi, dan Melindungi. Primandanu mengatakan masyarakat dapat melapor kepada OJK apabila menghadapi kendala atau memiliki aduan terkait layanan jasa keuangan.
“Kami dari OJK, mengatur dan mengawasi seluruh lembaga jasa keuangan seperti perbankan, finance, pegadaian, hingga asuransi. Ketika ada kendala atau aduan terkait produk pelayanan jasa keuangan maka masuk pada tugas kami yang ketiga, yakni melindungi,” ujarnya.
Ia mencontohkan perlindungan hak konsumen, misalnya ketika konsumen dikenakan biaya di luar kontrak yang telah disepakati. Menurutnya, konsumen berhak memperoleh keadilan dalam penggunaan produk pembiayaan lembaga keuangan.
Primandanu menambahkan, pelaksanaan sosialisasi juga didorong oleh temuan riset Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang menyebut adanya korelasi positif antara literasi keuangan dan kesejahteraan finansial. Selain itu, ia menyebut survei World Bank yang lebih spesifik menyasar kalangan ibu-ibu, yang menunjukkan bahwa kedekatan dengan produk dan layanan keuangan formal dapat meningkatkan kepercayaan diri dalam pengelolaan keuangan serta mendukung pengembangan usaha, khususnya bagi pelaku UMKM perempuan.
“Untuk itu kami hadir untuk sosialisasi dan pengenalan bagi ibu-ibu semua. Tapi perlu saya garis bawahi, dalam kegiatan ini kami mengajak semua berdiskusi dan berbagi pengalaman, agar pemahaman terkait produk dan layanan keuangan bisa lebih komprehensif lagi,” kata Primandanu.