BERITA TERKINI
Pemerintah Pastikan Defisit APBN Tetap di Bawah 3 Persen Meski Beban Subsidi Meningkat

Pemerintah Pastikan Defisit APBN Tetap di Bawah 3 Persen Meski Beban Subsidi Meningkat

Pemerintah menegaskan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan tetap dijaga di bawah 3 persen, meski beban subsidi meningkat di tengah tekanan global, tensi geopolitik, dan kenaikan harga minyak dunia. Kebijakan tersebut berjalan seiring keputusan pemerintah untuk menahan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi guna menjaga daya beli masyarakat dan menahan laju inflasi.

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan, menjaga konsumsi masyarakat menjadi salah satu langkah utama pemerintah saat ini. Karena itu, pemerintah memilih tidak menaikkan harga BBM bersubsidi meskipun terdapat tekanan dari faktor eksternal.

“Resepnya pertama, kita harus jaga daya beli masyarakat. Jadi BBM tidak kita naikkan. Yang kedua, dari sisi eksternal sebenarnya ada natural hedge,” ujar Juda dalam keterangannya di Auditorium Menara Bank Mega, dikutip Rabu, 8 April 2026.

Juda menjelaskan, meski belanja subsidi meningkat, pemerintah masih memiliki ruang untuk menjaga kesehatan fiskal melalui efisiensi pada pos belanja lain, tanpa mengganggu efektivitas program-program prioritas. Menurutnya, pengelolaan belanja tersebut membuat APBN tetap cukup kuat untuk meredam tekanan global.

“Karena belanja subsidinya naik, ini kita kelola supaya belanja yang lain lebih efisien tapi tetap efektif untuk mendorong program-program prioritas. Ada ruang-ruang untuk efisiensi. Inilah yang kita kelola sehingga secara keseluruhan APBN kita masih bisa kita jaga di bawah 3 persen defisit anggarannya,” ujarnya.

Ia menambahkan, kebijakan fiskal yang ditempuh pemerintah didasarkan pada perhitungan rinci. Dengan demikian, respons terhadap gejolak global tidak dilakukan secara reaktif, melainkan melalui pendekatan yang terukur, adaptif, dan berbasis kalkulasi yang matang.

“Apa yang kami sampaikan di fiskal ini adalah berdasarkan perhitungan-perhitungan detail. Jadi ini memang sebuah masukan dan tentu saja komunikasi terus harus kita lakukan dari hari ke hari,” kata Juda.

Pemerintah juga menilai kinerja perekonomian nasional hingga kuartal I 2026 masih solid. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di kisaran 5,4 persen hingga 6 persen, ditopang konsumsi domestik, penguatan komoditas ekspor seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO), serta investasi yang terus bergerak.

Selain itu, kinerja penerimaan pajak dan belanja negara disebut menunjukkan tren positif. Kondisi tersebut dinilai memberi ruang bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas fiskal tanpa mengorbankan agenda prioritas nasional.

Senada, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat di tengah tekanan ekonomi global. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di atas 5 persen, inflasi terkendali di kisaran 3 persen, dan surplus neraca perdagangan berlanjut.

“Itu banyak negara lain iri bisa punya pertumbuhan di atas 5 persen, bisa punya inflasi di kaliber 3 persen. Lalu kemudian surplus dagang kita sudah 70 bulan berturut-turut, 5 tahun lebih surplus dagang, cadangan devisa kita memadai, manufaktur kita masih ekspansif,” kata Suahasil.

Menurut Suahasil, tantangan global menuntut kebijakan yang adaptif, namun tetap bertumpu pada fondasi ekonomi yang kuat agar Indonesia dapat menjaga momentum pertumbuhan sekaligus menghindari jebakan pendapatan menengah. Ia menekankan pentingnya konsistensi terhadap lima agenda besar pembangunan.

Kelima agenda itu meliputi peningkatan produktivitas tenaga kerja melalui penguatan kualitas sumber daya manusia, termasuk pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial; pembangunan infrastruktur untuk memperluas akses layanan dasar serta memperkuat ketahanan pangan dan energi; reformasi kelembagaan untuk menciptakan birokrasi yang efektif dan kredibel; penegakan kebijakan ekonomi makro yang adaptif dan responsif terhadap dinamika global; serta menjaga stabilitas politik dan keamanan sebagai prasyarat pembangunan.

“Konsisten aja pada lima ini, kalau buat saya. Nah, tentu konsistensi ini kita terjemahkan di setiap periode pemerintahan, dan oleh setiap periode pemerintahan yang diterjemahkan dalam APBN dari tahun ke tahun,” tegas Suahasil.