JAKARTA — Pemerintah tetap optimistis terhadap kinerja ekonomi Indonesia di tengah tekanan global dan ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan perekonomian nasional dinilai cukup kuat untuk menjaga pertumbuhan di atas 5 persen, meski sejumlah lembaga internasional menurunkan proyeksi.
Airlangga mengatakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini diperkirakan mencapai minimal 5,5 persen. Sementara untuk akhir tahun, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan berada di kisaran 5,4 persen.
“Kuartal pertama diperkirakan minimal lima koma lima persen, akhir tahun sekitar lima koma empat persen,” kata Airlangga.
Namun, ia menekankan bahwa capaian tersebut sangat dipengaruhi perkembangan situasi geopolitik global dalam beberapa bulan mendatang. Menurutnya, dinamika global dalam waktu dekat dapat menentukan arah ekonomi, termasuk kebijakan dan investasi di dalam negeri.
“Semua bergantung kondisi geopolitik, dinamika global dua minggu ke depan sangat menentukan arah ekonomi,” ujarnya.
Optimisme pemerintah ini muncul di tengah perbedaan proyeksi dengan Bank Dunia. Dalam laporan terbarunya, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini berada di angka 4,7 persen, turun dari proyeksi sebelumnya 4,8 persen.
Airlangga menilai revisi tersebut tidak lepas dari dampak konflik global yang menekan banyak kawasan ekonomi. Ia menyebut situasi perang membuat lembaga internasional cenderung menyesuaikan perkiraan pertumbuhan seiring meningkatnya risiko ekonomi dunia.
“Situasi perang membuat banyak wilayah mengalami penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi secara luas,” katanya.
Meski demikian, pemerintah menilai proyeksi tersebut masih menunjukkan posisi ekonomi Indonesia relatif kuat, termasuk karena pertumbuhan nasional dinilai tetap berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan lebih rendah.
Bank Dunia juga mencatat perlambatan di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Pertumbuhan regional tahun ini diperkirakan turun menjadi 4,2 persen, dari 5 persen pada tahun sebelumnya.