PT Bank Maybank Indonesia Tbk mencatat akselerasi mobilisasi pembiayaan berkelanjutan pada 2025. Nilainya meningkat 92,9% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan capaian 2024 menjadi Rp8,24 triliun, yang disebut mencerminkan upaya bank menangkap peluang transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Realisasi penyaluran pembiayaan berkelanjutan tersebut dihitung mengacu pada Klasifikasi Kerangka Kerja Produk Berkelanjutan (Sustainable Product Framework/SPF) dan Kerangka Kerja Keuangan Transisi (Transition Finance Framework/TFF) yang ditetapkan Maybank Group serta dinyatakan sejalan dengan standar global.
Secara akumulasi sejak 2021 hingga 2025, Maybank Indonesia melaporkan telah memobilisasi pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp17,31 triliun.
Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan, mengatakan kenaikan pembiayaan berkelanjutan terutama ditopang ekspansi pembiayaan sektor hijau, dengan transportasi ramah lingkungan sebagai kontributor terbesar. Pembiayaan pada sektor ini mencapai Rp4,6 triliun, meningkat dari Rp2,1 triliun pada tahun sebelumnya seiring meningkatnya dukungan terhadap kendaraan listrik.
“Penyaluran ini merupakan bagian dari dukungan kami terhadap pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia, baik melalui pembiayaan kendaraan listrik maupun pembiayaan pada rantai nilai pendukungnya,” ujar Steffano dalam siaran pers, Kamis (2/4).
Pada segmen ritel, penyaluran pembiayaan tersebut turut didukung kolaborasi dengan entitas anak Maybank Indonesia, yakni Maybank Finance (MIF) dan WOM Finance, yang menyediakan pembiayaan kendaraan listrik dan hybrid untuk kendaraan roda empat maupun roda dua.
Selain transportasi ramah lingkungan, Maybank Indonesia juga memobilisasi pembiayaan pada sektor energi terbarukan sebesar Rp315 miliar serta pengelolaan sumber daya alam hayati dan penggunaan lahan berkelanjutan sebesar Rp500 miliar.
Dari sisi investasi dan instrumen pembiayaan, bank juga melaporkan investasi pada instrumen berkelanjutan seperti green bonds atau sukuk sebesar Rp1,5 triliun. Maybank Indonesia turut memperluas penggunaan instrumen pembiayaan berbasis keberlanjutan melalui sustainability-linked financing yang mencapai Rp1,1 triliun, yang disebut memungkinkan bank mendorong pencapaian target keberlanjutan sekaligus memperkuat perannya sebagai mitra strategis dalam integrasi aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dalam strategi dan operasional nasabah.
Pada kategori sosial, penyaluran pembiayaan difokuskan pada sektor pengembangan sosial ekonomi, pemberdayaan, dan penciptaan lapangan kerja dengan total Rp172 miliar. Pembiayaan ini diarahkan untuk mendukung pengembangan usaha serta peningkatan akses pembiayaan yang inklusif bagi pelaku usaha dan masyarakat.
Sementara itu, berdasarkan Kategori Kegiatan Usaha Berkelanjutan (KKUB), total pembiayaan yang disalurkan Maybank Indonesia hingga 2025 mencapai Rp21,23 triliun, atau setara 19,55% dari total kredit yang disalurkan bank (bank saja). Steffano menyatakan capaian tersebut mencerminkan komitmen bank memperluas pembiayaan yang berdampak positif bagi lingkungan dan masyarakat, sejalan dengan misi “Humanising Financial Services” dan strategi jangka panjang ROAR30 (2026–2030) yang menempatkan keberlanjutan dan nilai syariah sebagai diferensiasi utama pertumbuhan.
Maybank Indonesia juga menyebut pencapaian ini berkontribusi terhadap target Maybank Group dalam memobilisasi pembiayaan berkelanjutan secara global, sejalan dengan kerangka SPF.
Di luar pembiayaan, bank melaporkan sejumlah capaian non-finansial hingga 2025, antara lain meningkatkan kesejahteraan lebih dari 400 ribu rumah tangga, menurunkan emisi karbon operasional (cakupan 1 dan 2) sebesar 30,84% dari baseline 2019, serta mencatat lebih dari 388 ribu jam kegiatan keberlanjutan.