JAKARTA. Pasar seni rupa, khususnya lukisan, belum menunjukkan geliat signifikan sepanjang kuartal I 2026. Di tengah tekanan ekonomi global dan domestik, minat beli kolektor disebut kian selektif dan tidak lagi impulsif seperti sebelumnya.
Gallery Director sekaligus Co-Founder RUCI Art Space, Rio Pasaribu, mengatakan pihaknya telah menggelar pameran kelompok pada awal tahun ini. Namun, dari sisi jumlah pengunjung, belum terlihat peningkatan yang berarti.
“Pengunjung tidak meningkat, tetapi ada banyak pengunjung baru yang sebelumnya belum pernah datang ke pameran seni rupa (first timer),” ujar Rio, Jumat (10/4/2026).
Dari sisi transaksi, Rio menyebut karya seniman yang sudah memiliki nama masih menjadi yang paling cepat terjual. Ia mencontohkan salah satu karya perupa perempuan yang laku di kisaran Rp 30 juta hingga Rp 40 juta per lukisan.
Meski demikian, ia menilai pasar seni tetap terdampak situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian. Menurutnya, tekanan dari gejolak geopolitik, pelemahan rupiah, hingga kenaikan harga kebutuhan turut melemahkan daya beli masyarakat.
Rio menambahkan, bahkan kolektor yang secara finansial relatif tidak terdampak pun kini cenderung lebih berhati-hati dalam bertransaksi. “Perilaku atau behavior pembeli berubah. Kalau sebelumnya cenderung impulsif, sekarang pembeli lebih banyak mempelajari dulu seniman dan karyanya sebelum membeli, jadi tidak impulsif lagi,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, Rio menilai karya seni, termasuk lukisan, belum bisa dianggap sebagai alternatif investasi yang menarik di tengah krisis global saat ini.
Ke depan, prospek pasar lukisan hingga akhir 2026 juga masih dibayangi tekanan. Rio memperkirakan permintaan berpotensi tidak hanya stagnan, tetapi juga bisa menurun apabila kondisi ekonomi tidak segera membaik. Ia menilai banyak konsumen memilih menahan belanja, terutama untuk barang tersier seperti karya seni.
“Bukan berarti tidak punya uang, tapi mereka lebih berhati-hati dalam spending, terutama untuk barang mewah seperti lukisan,” katanya.
Meski begitu, ia menilai peluang tetap ada bagi karya yang dinilai memiliki prospek kuat. Kolektor disebut masih akan membeli apabila yakin terhadap kualitas karya dan potensi perkembangan senimannya.
Rio pun menyarankan investor maupun kolektor untuk lebih selektif sebelum masuk ke pasar seni. Ia menekankan pentingnya memahami latar belakang seniman, konteks karya, serta relevansinya di pasar global. “Pelajari seniman, karyanya, dan konteks kekaryaannya. Apakah akan tetap relevan dan bisa diterima pasar internasional. Kalau ragu, jangan membeli hanya karena FOMO,” pungkasnya.
Kondisi tersebut disebut sejalan dengan riset Bain & Company yang dimuat pada akhir Desember 2025. Riset itu mencatat pola konsumsi pada segmen barang mewah mengalami pergeseran: dari fokus pada kepemilikan produk menuju pengeluaran berbasis pengalaman (experience).
Tren itu tercermin dari meningkatnya minat pada kategori berbasis pengalaman seperti perhotelan, santapan mewah, fasilitas kesehatan, hingga traveling. Dalam dua tahun terakhir, jumlah konsumen di segmen barang mewah juga dilaporkan terus menurun. Pada 2025, pasar barang mewah, termasuk seni rupa dan lukisan, disebut kehilangan sekitar 20 juta pelanggan aktif.
Kendati demikian, riset tersebut memperkirakan prospek industri barang mewah mulai membaik pada 2026, dengan proyeksi pertumbuhan moderat setelah mengalami tekanan dalam beberapa tahun terakhir. Dalam jangka panjang hingga 2035, outlook industri ini dinilai tetap positif, meski laju pertumbuhan diperkirakan lebih selektif dan tidak merata dibandingkan dekade sebelumnya.