BERITA TERKINI
Pasar Global Berbalik Arah di Tengah Gencatan Senjata Rapuh dan Ketidakpastian Selat Hormuz

Pasar Global Berbalik Arah di Tengah Gencatan Senjata Rapuh dan Ketidakpastian Selat Hormuz

Pergerakan pasar keuangan global kembali berfluktuasi seiring rapuhnya kepercayaan investor terhadap perkembangan terbaru di Timur Tengah. Optimisme yang sempat mengangkat aset berisiko setelah kesepakatan gencatan senjata AS dan Iran kini dibayangi kekhawatiran baru, menyusul berlanjutnya pertempuran sporadis di kawasan serta ketidakpastian terkait jalur energi strategis Selat Hormuz.

“Gencatan senjata ini jelas merupakan berita positif, tetapi bukan sebuah resolusi akhir,” ujar Mark Hackett dari Nationwide. Menurutnya, yang paling menonjol adalah “betapa cepatnya pasar berbalik arah begitu tekanan mereda sedikit saja.”

Ketegangan meningkat setelah Israel melanjutkan kampanye militernya melawan milisi Hizbullah di Lebanon. Pejabat Iran menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang usianya bahkan belum genap sehari. Situasi ini memunculkan kembali kekhawatiran bahwa gencatan senjata tidak akan bertahan lama.

Di sisi infrastruktur energi, pipa minyak utama Arab Saudi menuju Laut Merah dilaporkan mengalami kerusakan terbatas akibat serangan drone sebelumnya di salah satu stasiun pompa. Meski demikian, menurut sumber yang memahami masalah tersebut, aliran minyak mentah tetap berlanjut.

Sebelumnya, gelombang optimisme sempat menyapu pasar pada Rabu. Saham dan mata uang kripto menguat, sementara harga minyak melemah setelah AS dan Iran mencapai kesepakatan gencatan senjata. Minat terhadap aset berisiko mendorong indeks S&P 500 naik 2,5% dan menghidupkan kembali ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga pada 2026.

Namun pada Kamis, sentimen kembali lebih berhati-hati. Indeks dolar Bloomberg naik 0,1%. Harga emas turun 0,4% menjadi sekitar 4.700 dolar AS per ons, sementara Bitcoin sedikit melemah dan diperdagangkan di sekitar 71.000 dolar AS.

Pelaku pasar terus mencermati Selat Hormuz dan kemungkinan kembalinya arus energi melalui jalur tersebut. Selat itu sebagian besar masih terblokir pada Rabu, ketika pemilik kapal berupaya memastikan keamanan pelayaran setelah gencatan senjata rapuh AS-Iran diumumkan semalam.

Data pelacakan kapal menunjukkan hanya tiga kapal terlihat meninggalkan kawasan tersebut pada Rabu. Sebagian memiliki keterkaitan dengan Iran, dan media negara itu kemudian melaporkan jalur tanker akan tetap diblokir setelah serangan di Lebanon. Dalam kondisi normal, sekitar 135 kapal melintasi selat setiap hari. Kini, lebih dari 800 kapal kargo tertahan di kawasan Teluk, sebagian besar menunggu untuk keluar.

RBC Capital Markets LLC menilai pembukaan kembali Selat Hormuz akan menjadi proses yang “sangat rumit”. Iran diperkirakan akan mengendalikan arus kargo dan berpotensi memengaruhi hampir setiap barel minyak yang keluar dari jalur tersebut.

Dari sisi kebijakan moneter, risalah rapat kebijakan The Fed pada Maret yang dirilis Rabu menunjukkan sebagian besar pejabat khawatir perang berkepanjangan dapat merugikan pasar tenaga kerja dan memerlukan suku bunga lebih rendah. Namun, banyak pembuat kebijakan juga menyoroti risiko terhadap inflasi.

Di pasar saham, kontrak Hang Seng turun 0,3%, indeks Topix turun 0,2%, dan indeks S&P/ASX 200 turun 0,4%. Sementara itu, kontrak Euro Stoxx 50 tercatat naik 4,9%.

Di pasar valuta asing, euro relatif stabil di 1,1654 dolar AS, yen Jepang melemah 0,1% menjadi 158,73 per dolar, dan yuan offshore relatif stabil di 6,8370 per dolar.

Pada aset kripto, Bitcoin turun 0,4% menjadi 71.066,38 dolar AS dan Ether melemah 0,9% menjadi 2.191,18 dolar AS.

Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun stabil di 4,29%. Imbal hasil obligasi Jepang tenor 10 tahun turun empat basis poin menjadi 2,365%, sedangkan imbal hasil obligasi Australia tenor 10 tahun naik delapan basis poin menjadi 4,94%.

Untuk komoditas, minyak West Texas Intermediate naik 3,1% menjadi 97,33 dolar AS per barel, sementara emas spot turun 0,4% menjadi 4.701,08 dolar AS per ons.