Jember, 9 April 2026 — Di tengah tekanan geopolitik global dan ancaman krisis pangan, Jawa Timur dinilai perlu melangkah lebih jauh dari sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi. Penguatan ketahanan (resiliensi) yang berkelanjutan, melalui transformasi struktural pertanian modern, penguatan kelembagaan, serta hilirisasi agro berbasis riset, menjadi sorotan utama.
Gagasan tersebut mengemuka dalam forum Road to East Java Economic (EJAVEC) Forum 2026 yang digelar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember (FEB UNEJ), Rabu (8/4). Forum mengangkat tema “Mengakselerasi Pembangunan Wilayah untuk Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur yang Unggul, Inklusif, serta Berkelanjutan Menuju Ketahanan dan Kemandirian Ekonomi Nasional.”
Forum yang melibatkan kolaborasi Bank Indonesia, akademisi, dan peneliti itu diarahkan sebagai ruang perumusan kebijakan berbasis riset (evidence-based policy) untuk merespons tantangan ekonomi global.
Guru Besar FEB Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Catur Sugiyanto, M.A., menyoroti kerentanan ekonomi akibat konflik geopolitik global yang berdampak pada lonjakan harga energi dan pangan. Ia menekankan bahwa masa depan ketahanan pangan Indonesia sangat bergantung pada transformasi sektor pertanian, terutama dengan keterlibatan generasi muda.
“Transformasi pertanian adalah keniscayaan. Di tangan petani milenial, pertanian tidak lagi identik dengan cara konvensional, tetapi berbasis teknologi dan digitalisasi yang mampu meningkatkan nilai tambah,” ujarnya.
Menurut Catur, tantangan struktural seperti menurunnya jumlah petani muda dan alih fungsi lahan juga perlu segera ditangani melalui inovasi dan kolaborasi lintas sektor.
Sementara itu, ekonom Universitas Jember Adhitya Wardhono, Ph.D., menekankan pentingnya reformasi kelembagaan sebagai fondasi ketahanan ekonomi daerah. Ia menilai orientasi pembangunan perlu bergeser dari sekadar mengejar pertumbuhan menuju pertumbuhan yang tahan terhadap guncangan.
“Ke depan, pertanyaannya bukan lagi bagaimana kita tumbuh, tetapi bagaimana kita tumbuh dengan tahan terhadap guncangan. Ketahanan pangan adalah bagian dari ketahanan wilayah, dan ini sangat ditentukan oleh kualitas kebijakan pemerintah daerah,” kata Adhitya.
Ia juga menyoroti perlunya pergeseran dari sistem ekonomi yang bersifat ekstraktif menuju sistem yang lebih inklusif, antara lain melalui kepastian insentif, tata niaga yang adil, serta perlindungan terhadap lahan pertanian produktif.
Selain paparan makro, forum turut menampilkan temuan riset dari pemenang Call for Paper EJAVEC 2025, Bayu Dwi Kurniawan dan Roni Anom Satrio. Dalam penelitian berjudul “Penguatan Hilirisasi Agro Jawa Timur: Integrasi Pertanian dan Industri Agro dalam Rantai Nilai Lokal melalui Pendekatan Spasial,” keduanya menyebut Jawa Timur memiliki potensi besar untuk menjadi pusat hilirisasi agro nasional.
Roni menjelaskan, selama ini rantai nilai pertanian dinilai belum optimal karena integrasi antarwilayah dan antarsektor yang masih lemah. “Sebelum masuk ke rantai nilai global, kita harus memperkuat rantai nilai lokal terlebih dahulu. Jawa Timur memiliki infrastruktur dan posisi strategis untuk menjadi hub pengolahan produk agro dari berbagai wilayah Indonesia,” ujarnya.
Bayu menambahkan bahwa dampak ekonomi Jawa Timur tidak hanya dirasakan di tingkat regional, tetapi juga memberi pengaruh ke provinsi lain. “Setiap peningkatan investasi di sektor agro Jawa Timur memberikan efek rambatan ke provinsi lain. Ini menunjukkan posisi Jawa Timur sebagai pusat gravitasi ekonomi nasional,” katanya.
Riset tersebut juga mengidentifikasi ribuan desa potensial yang dapat dikembangkan sebagai pusat agroindustri baru, dengan dukungan akses keuangan, literasi digital, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia.
Melalui sinergi Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi, hasil Road to EJAVEC 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai wacana akademik, melainkan dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang aplikatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang inklusif, tangguh, dan berdaya saing global.