BERITA TERKINI
OJK Waspadai Dampak Konflik Iran melalui Tiga Jalur Risiko ke Sektor Keuangan

OJK Waspadai Dampak Konflik Iran melalui Tiga Jalur Risiko ke Sektor Keuangan

Ketegangan geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi global. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak lanjutan yang dapat merembet ke sektor keuangan nasional.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan eskalasi konflik berpotensi menimbulkan tekanan melalui tiga jalur transmisi utama. Tiga kanal yang disoroti yakni financial market channel atau jalur pasar keuangan, kenaikan harga energi, serta direct channel melalui eksposur perdagangan dan investasi.

“Mengingat eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat-Israel berpotensi meningkatkan transmisi ke sektor keuangan melalui tiga kanal utama, yaitu financial market channel, kenaikan harga energi dan direct channel di dalam trade dan investment exposure,” kata Friderica dalam RDKB Maret 2026, Senin (6/4/2026).

Untuk menghadapi ketiga kanal risiko tersebut, OJK mendorong lembaga jasa keuangan melakukan asesmen lanjutan secara forward looking. OJK juga menekankan penguatan manajemen risiko, pemantauan yang lebih intensif, serta menjaga kecukupan likuiditas dan permodalan sebagai langkah kunci menjaga ketahanan sektor keuangan.

“OJK mendorong lembaga jasa keuangan untuk melakukan assesmen lanjutan secara forward looking dan tentunya memperkuat langkah antisipasif termasuk melalui penguatan manajemen resiko, mencermati secara intensif, serta menjaga kecukupan likuiditas dan juga permodalan,” ujarnya.

Selain itu, OJK menyatakan terus memantau pergerakan pasar dan berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk self regulatory organization, untuk memastikan langkah kebijakan tetap adaptif terhadap dinamika global. Menurut Friderica, koordinasi tersebut dilakukan agar stabilitas sistem keuangan nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian yang berkembang.

Dalam penilaiannya, Friderica menyebut kinerja perekonomian ke depan dihadapkan pada ketidakpastian yang meningkat seiring eskalasi tensi politik di kawasan Teluk yang dinilai menambah risiko terhadap stabilitas global. Kondisi itu, menurutnya, mendorong lonjakan harga energi dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan global.

Ia juga menyampaikan bahwa OECD dalam Economic Outlook Maret 2026 memproyeksikan prospek perekonomian global berada pada jalur penguatan sebelum terjadinya perang, namun kini mengalami koreksi akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. OJK menilai tingginya ketidakpastian global dan tekanan harga energi turut mempersempit ruang kebijakan moneter bank sentral global serta memunculkan ekspektasi high for longer.