BERITA TERKINI
OJK: Usia 19–34 Tahun Mendominasi Kredit Macet Pinjaman Daring pada Juli 2026

OJK: Usia 19–34 Tahun Mendominasi Kredit Macet Pinjaman Daring pada Juli 2026

Kelompok usia 19 hingga 34 tahun tercatat mendominasi pembiayaan bermasalah di industri pinjaman daring. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dilansir Investor Daily, porsi kredit macet dari kelompok usia tersebut mencapai 48,22 persen dari total kredit macet pada Juli 2026.

Tingginya angka kredit macet di kalangan Generasi Z dan Milenial itu memunculkan imbauan agar kelompok usia muda meningkatkan literasi keuangan. Mereka juga diingatkan agar tidak menjadikan layanan pembiayaan digital sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan konsumtif.

Konsultan dan Perencana Keuangan Elvi Diana menegaskan bahwa pinjaman daring merupakan kewajiban yang harus dikembalikan, bukan sumber pendapatan tambahan. “Pinjaman bukan tambahan pendapatan. Pinjaman adalah kewajiban yang harus dikembalikan. Karena itu, sebelum mengambil pembiayaan, harus ada perhitungan yang jelas mengenai kemampuan membayar,” kata Elvi.

Menurut Elvi, lonjakan pembiayaan bermasalah perlu direspons dengan penguatan pemahaman mengenai biaya pinjaman, risiko keterlambatan, hingga risiko penggunaan utang secara berlebihan sejak masyarakat mulai memiliki penghasilan. “Literasi keuangan harus diperkuat sejak generasi muda mulai memiliki penghasilan dan akses terhadap berbagai produk keuangan digital. Jangan sampai kemudahan mendapatkan pinjaman justru membuat seseorang mengambil pembiayaan tanpa menghitung kemampuan membayarnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, konsumen perlu mengambil keputusan secara rasional dengan mempertimbangkan tujuan pembiayaan, jangka waktu pelunasan, serta batas kemampuan anggaran bulanan sebelum mengajukan pinjaman. Selain itu, generasi muda juga diminta mampu membedakan penyelenggara pinjaman yang legal dan ilegal. “Jangan hanya melihat seberapa cepat pinjaman bisa cair, tetapi juga harus memeriksa legalitas dan memahami seluruh kewajiban yang muncul,” kata Elvi.

Elvi menilai edukasi keuangan perlu diperluas melalui media sosial, platform digital, kampus, hingga tempat kerja. Menurutnya, generasi muda perlu dibekali keterampilan praktis, mulai dari menyusun anggaran, menghitung cicilan, mengelola utang, membangun dana darurat, hingga mengenali risiko dan jebakan pinjaman ilegal. “Literasi keuangan jangan hanya berbicara tentang teori. Anak muda harus dibekali keterampilan practical: bagaimana menyusun anggaran, menghitung cicilan, mengelola utang, membangun dana darurat, dan mengenali jebakan pinjaman ilegal,” tuturnya.

Penguatan edukasi tersebut diharapkan dapat membentuk masyarakat muda yang lebih kritis dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan layanan keuangan digital. “Tujuan akhirnya bukan membuat generasi muda takut menggunakan layanan keuangan digital, tetapi memastikan mereka menjadi pengguna yang cerdas, kritis, dan mampu mengendalikan keputusan keuangannya sendiri,” pungkas Elvi.