JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) nasional masih terjaga meski perekonomian menghadapi dinamika global dan domestik yang menantang. Kesimpulan itu disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK pada 1 April 2026.
OJK menilai ketahanan tersebut mencerminkan efektivitas kebijakan serta koordinasi antarotoritas dalam menjaga stabilitas sistem keuangan. Namun, ke depan ketidakpastian global diperkirakan meningkat seiring eskalasi konflik geopolitik, terutama di kawasan Teluk.
Ketegangan di kawasan itu disebut berdampak pada terganggunya operasional infrastruktur energi di Timur Tengah serta penutupan Selat Hormuz, jalur penting distribusi energi dunia. Gangguan tersebut memicu lonjakan harga energi global dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan internasional, sehingga menambah tekanan bagi banyak negara, khususnya yang bergantung pada impor energi.
Lembaga internasional sebelumnya memperkirakan ekonomi global berada dalam tren pemulihan sebelum konflik meningkat. Namun, eskalasi di Timur Tengah mendorong revisi proyeksi pertumbuhan global menjadi lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.
Tingginya ketidakpastian global dan kenaikan harga energi juga dinilai mempersempit ruang gerak kebijakan moneter di berbagai negara. Bank sentral global cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk menjaga inflasi.
Di Amerika Serikat, perekonomian disebut menunjukkan tanda-tanda tekanan, ditandai inflasi yang masih persisten dan meningkatnya tingkat pengangguran. Kebijakan suku bunga dipertahankan, dengan ekspektasi pasar yang kini mengarah pada tidak adanya penurunan suku bunga sepanjang 2026.
Sementara itu, Tiongkok mencatat kinerja ekonomi yang relatif lebih baik dari ekspektasi, didukung peningkatan permintaan dan stimulus sektor keuangan. Meski demikian, pemerintah Tiongkok tetap menurunkan target pertumbuhan sebagai langkah antisipatif terhadap risiko global dan tantangan struktural domestik.
Di dalam negeri, inflasi inti pada Maret 2026 dilaporkan menurun. Konsumsi masyarakat juga dinilai tetap kuat, tercermin dari pertumbuhan penjualan ritel serta kinerja penjualan kendaraan bermotor yang solid pada awal tahun.
Dari sisi produksi, aktivitas ekonomi masih menunjukkan kinerja positif meski mengalami sedikit moderasi. Hal itu terlihat dari indeks manufaktur yang tetap berada di zona ekspansi, menandakan sektor industri masih berkembang.
Ketahanan eksternal Indonesia turut disebut terjaga, ditopang cadangan devisa yang memadai dan neraca perdagangan yang mencatat surplus. Kondisi tersebut dinilai menjadi bantalan menghadapi tekanan eksternal.
Di pasar modal, pergerakan saham domestik sepanjang Maret 2026 mengalami volatilitas yang cukup tinggi sejalan dengan tren global. Indeks saham utama tercatat mengalami koreksi signifikan akibat meningkatnya ketidakpastian global.