Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga di tengah dinamika global yang berkembang. Penilaian tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK yang digelar pada Selasa, 1 April 2026.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan ketidakpastian global meningkat seiring eskalasi geopolitik di kawasan Teluk. Menurutnya, kondisi itu berdampak pada stabilitas global dan mengganggu distribusi energi dunia.
OJK mencatat gangguan infrastruktur energi di Timur Tengah telah memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan global. Situasi tersebut juga disebut menambah tekanan terhadap kebijakan ekonomi di berbagai negara.
“Ketidakpastian global meningkat dan berdampak pada stabilitas ekonomi serta pasar keuangan dunia,” ujar Friderica. Ia menambahkan, kondisi ini turut mempersempit ruang kebijakan moneter global.
Dari sisi proyeksi global, OECD sebelumnya memperkirakan ekonomi dunia menguat sebelum konflik meningkat di kawasan Timur Tengah. Namun, proyeksi tersebut kemudian mengalami koreksi seiring eskalasi ketegangan geopolitik.
Di Amerika Serikat, tekanan ekonomi terlihat dari inflasi yang masih tinggi dan meningkatnya pengangguran. Bank sentral AS mempertahankan suku bunga dan memberikan sinyal terbatas untuk penurunan pada 2026.
Sementara itu, perekonomian Tiongkok disebut menunjukkan kinerja di atas ekspektasi dengan dukungan stimulus sektor keuangan. Meski demikian, target pertumbuhan tetap diturunkan karena tantangan eksternal.
Di dalam negeri, inflasi inti pada Maret 2026 tercatat menurun, sementara konsumsi masyarakat dinilai tetap kuat. Kinerja ekonomi juga didukung pertumbuhan ritel serta sektor manufaktur yang masih berada dalam fase ekspansif.