BERITA TERKINI
OJK: Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga di Tengah Gejolak Global

OJK: Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga di Tengah Gejolak Global

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) Indonesia masih terjaga di tengah kondisi pasar keuangan yang bergejolak dan meningkatnya tekanan global.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyampaikan ketidakpastian ekonomi global meningkat seiring eskalasi konflik geopolitik di kawasan Teluk. Menurutnya, kondisi tersebut mengganggu infrastruktur energi di Timur Tengah dan memicu potensi penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi dunia.

“Situasi ini mendorong lonjakan harga energi dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan global,” ujarnya, Rabu (8/4).

OJK juga menyoroti proyeksi lembaga Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang sebelumnya memperkirakan ekonomi global menguat pada 2026, namun kemudian terkoreksi seiring konflik di Timur Tengah yang kian memanas.

Tekanan global tersebut dinilai mempersempit ruang kebijakan moneter bank sentral dan memunculkan kembali ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama (high for longer).

Di Amerika Serikat, tekanan inflasi yang masih tinggi serta meningkatnya pengangguran disebut membayangi pertumbuhan ekonomi. Federal Reserve tetap menahan suku bunga pada Maret 2026 dengan sinyal pemangkasan terbatas. Namun, pasar kini memperkirakan tidak ada penurunan suku bunga sepanjang tahun ini.

Sementara itu, ekonomi Tiongkok disebut mencatat kinerja di atas ekspektasi berkat stimulus sektor keuangan dan perbaikan permintaan. Meski demikian, pemerintah Tiongkok tetap menurunkan target pertumbuhan sebagai respons atas tantangan struktural dan ketidakpastian global.

Di dalam negeri, OJK mencatat inflasi inti pada Maret 2026 menurun. Konsumsi masyarakat dinilai tetap solid, tercermin dari pertumbuhan penjualan ritel yang diperkirakan mencapai 6,89% secara tahunan serta penjualan kendaraan bermotor yang masih kuat.

Dari sisi produksi, aktivitas ekonomi masih berada di zona ekspansif meski mulai moderat, terlihat dari indikator PMI manufaktur. Ketahanan eksternal juga dinilai solid dengan cadangan devisa yang memadai dan neraca perdagangan yang tetap surplus.