Jakarta — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar global dan memicu lonjakan harga energi, yang berdampak pada meningkatnya volatilitas keuangan dunia. Di tengah tekanan tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan sektor jasa keuangan Indonesia tetap stabil dengan dukungan fundamental domestik yang dinilai masih solid.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan eskalasi konflik mengubah arah ekonomi global yang sebelumnya berada dalam tren penguatan. Ketidakpastian meningkat, membuat pergerakan pasar lebih fluktuatif sekaligus mempersempit ruang kebijakan ekonomi di berbagai negara.
“Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan pada 1 April 2026 menilai stabilitas sektor jasa keuangan nasional hingga Maret 2026 masih terjaga, meskipun risiko global meningkat,” ujar Friderica dalam konferensi pers RDKB OJK, Senin (6/4/2026).
Menurut Friderica, tekanan global tidak hanya bersumber dari konflik geopolitik, tetapi juga dari kebijakan moneter yang cenderung ketat. Ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama kembali menguat seiring inflasi yang belum sepenuhnya terkendali.
Dari sisi domestik, ia menyebut daya tahan ekonomi Indonesia masih terjaga. Inflasi inti pada Maret 2026 tercatat menurun, sementara konsumsi masyarakat tetap kuat di awal tahun. Kondisi itu tercermin dari pertumbuhan penjualan ritel yang diperkirakan mencapai 6,89% secara tahunan serta kinerja penjualan kendaraan bermotor yang dinilai tetap solid.
Friderica menegaskan OJK terus memantau perkembangan global dan berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan untuk memastikan stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga.
Perusahaan pembiayaan dinilai tetap resilien
Dalam penilaian OJK pada triwulan pertama 2026, di tengah dinamika perekonomian global yang penuh ketidakpastian, PT CIMB Niaga Auto Finance (CIMB Niaga Finance/CNAF) disebut mampu mempertahankan pertumbuhan kinerja dan menutup tahun 2025 dengan performa keuangan yang terjaga.
Perusahaan membukukan pendapatan Rp2,23 triliun pada 2025, naik 9,31% dibandingkan Rp2,04 triliun pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan itu didorong kenaikan total aset 6,04% menjadi Rp11,46 triliun, serta total aset kelolaan yang tumbuh 3,93% menjadi Rp13,66 triliun.
Laba bersih CNAF pada 2025 tercatat Rp322,75 miliar. Perusahaan juga menyampaikan strategi menjaga kualitas aset berkontribusi pada kenaikan peringkat dari Fitch Indonesia menjadi AAA.
Presiden Direktur CIMB Niaga Finance Ristiawan menyatakan 2025 merupakan periode penuh tantangan karena kondisi pasar yang terkontraksi. Ia mengatakan perusahaan berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas.
Ristiawan menyebut perlambatan pertumbuhan industri pembiayaan pada 2025 dirasakan seluruh pelaku industri, namun CNAF mencatat total penyaluran pembiayaan baru sebesar Rp9,25 triliun. Pencapaian itu, menurutnya, turut memperkuat posisi perusahaan di industri, tercermin dari meningkatnya pangsa pasar pembiayaan kendaraan bermotor menjadi 6,11% serta pertumbuhan aset kelolaan 3,93%.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) CNAF di Tangerang Selatan, Senin (6/4/2026). Dalam rapat itu, pemegang saham menyetujui Laporan Tahunan Perseroan Tahun Buku 2025 serta menerima laporan pengawasan Dewan Komisaris atas kinerja Direksi selama tahun buku 2025.
RUPST juga memutuskan Laporan Keuangan Perseroan tahun buku 2025 yang telah diaudit Kantor Akuntan Publik Rintis, Jumadi, Rianto & Rekan dengan laporan tertanggal 11 Maret 2026, dengan pendapat bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar dalam semua hal yang material sesuai Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia. Laporan keuangan tersebut disebut telah dipublikasikan melalui surat kabar harian ekonomi Neraca pada 12 Maret 2026.
Selain itu, pemegang saham menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp129 miliar atau 40% dari laba bersih tahun buku 2025. RUPST juga menyetujui penunjukan kembali Rintis, Jumadi, Rianto & Rekan untuk mengaudit buku perseroan tahun buku 2026.
Sejalan dengan komitmen tata kelola, pemegang saham menyetujui pengangkatan kembali Dr. Rini Fatma Kartika, S.Ag., MH sebagai Anggota Dewan Pengawas Syariah untuk masa jabatan tiga tahun pada periode 2026–2029.
Sumber: infopublik.id