Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai peningkatan literasi keuangan masyarakat Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar. Literasi yang memadai dinilai penting agar masyarakat tidak mudah tergiur tawaran investasi yang menjanjikan keuntungan tinggi, namun berujung penipuan.
Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi dalam kegiatan edukasi keuangan di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, Kamis, 10 April 2026. Dalam keterangannya, Hasan menekankan bahwa rendahnya pemahaman dapat membuat masyarakat rentan terhadap investasi ilegal dan investasi bodong.
Hasan menjelaskan, berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 untuk pasar modal, tingkat literasi masyarakat tercatat sekitar 17,78 persen. Angka ini menunjukkan masih banyak masyarakat yang belum memiliki pemahaman yang benar mengenai investasi di pasar modal, sehingga berisiko menjadi sasaran penipuan dan tawaran investasi ilegal.
Melalui program edukasi keuangan, OJK berharap pemahaman masyarakat, termasuk mahasiswa, dapat meningkat. Hasan menyebut akses berinvestasi di pasar modal kini semakin mudah karena layanan dapat dijangkau secara online melalui perangkat seluler.
Di sisi lain, ia mengingatkan masyarakat agar tetap berhati-hati dalam berinvestasi, termasuk memahami profil risiko dan menghindari perilaku spekulatif. Hasan juga menyoroti sejumlah potensi risiko, seperti volatilitas harga yang tajam, maraknya penipuan yang menyamar sebagai investasi legal untuk saham dan kripto, serta potensi penyalahgunaan akun untuk tindak kejahatan, termasuk pencucian uang.
OJK mencatat, hingga akhir Maret 2026 jumlah investor pasar modal Indonesia telah mencapai 24,4 juta investor. Dari jumlah tersebut, 54 persen di antaranya berusia di bawah 30 tahun.