BERITA TERKINI
OJK Jawa Tengah Perketat Pengawasan Kualitas Kredit di Tengah Gejolak Global

OJK Jawa Tengah Perketat Pengawasan Kualitas Kredit di Tengah Gejolak Global

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Tengah meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak gejolak geopolitik dan ekonomi global yang dinilai berpotensi menekan kualitas kredit perbankan. Meski kinerja perbankan di wilayah tersebut masih stabil, OJK menilai langkah antisipatif perlu dilakukan sejak dini.

Kepala OJK Jawa Tengah Hidayat Prabowo mengatakan dinamika global dapat merembet hingga ke daerah dan memengaruhi sektor riil yang menjadi penopang utama penyaluran kredit perbankan.

“Gejolak global pasti berdampak ke daerah sehingga harus terus dipantau agar tidak mengganggu stabilitas sektor jasa keuangan,” ujarnya.

Menurut Hidayat, tekanan global dapat memicu kenaikan biaya produksi, gangguan distribusi, serta penurunan permintaan pasar. Kondisi tersebut berisiko mengganggu arus kas pelaku usaha dan pada akhirnya memengaruhi kemampuan debitur dalam membayar kewajiban kredit.

“Risiko penurunan kualitas kredit harus diantisipasi, termasuk potensi peningkatan kredit bermasalah,” katanya.

Secara umum, OJK menilai kondisi industri perbankan di Jawa Tengah masih terjaga. Rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) disebut masih berada di bawah ambang batas aman yang ditetapkan regulator.

Namun, Hidayat menyoroti segmen Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang tingkat kredit bermasalahnya masih relatif lebih tinggi dibanding perbankan umum. Hal ini menjadi perhatian karena BPR memiliki keterkaitan erat dengan pembiayaan sektor mikro dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Kondisi tersebut juga dipengaruhi pelaku UMKM yang belum sepenuhnya pulih dari tekanan sebelumnya,” ujarnya.

Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit perbankan di Jawa Tengah masih tumbuh secara tahunan, mencerminkan aktivitas ekonomi yang tetap bergerak dan kebutuhan pembiayaan yang masih tinggi. Likuiditas perbankan juga dinilai cukup kuat untuk menopang ekspansi kredit.

Dalam menghadapi ketidakpastian global, OJK mendorong perbankan memperkuat manajemen risiko dan tetap selektif dalam menyalurkan kredit. OJK juga menyatakan pengawasan dilakukan secara intensif untuk memastikan kualitas aset tetap terjaga.

“Perbankan diminta tetap selektif dalam penyaluran kredit dan memperkuat mitigasi risiko agar kualitas kredit tetap terjaga,” tegas Hidayat.

Selain itu, OJK mendorong langkah antisipatif, termasuk restrukturisasi kredit yang tepat sasaran bagi debitur terdampak, guna menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan kualitasnya.