BANDUNG — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat terus mendorong peningkatan literasi keuangan di kalangan generasi muda. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui Investor Youth Seminar bertema “Meraup Cuan dari Saham Energi” yang digelar di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung, beberapa waktu lalu.
Kegiatan ini bertujuan membekali mahasiswa dengan pemahaman dasar mengenai investasi dan pengelolaan keuangan sejak dini.
Kepala Divisi Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan 5 Kantor OJK Provinsi Jawa Barat, Herlina Hayati Emmi Sannidia Marpaung, mengatakan literasi keuangan menjadi hal penting bagi mahasiswa yang dinilai sebagai calon investor di masa depan.
“Acara ini sangat bagus karena mengangkat topik literasi finansial yang penting bagi adik-adik mahasiswa. Sebagai calon investor, mahasiswa perlu memahami dasar-dasar investasi sebelum mulai menanamkan modal,” ujar Herlina.
Menurut Herlina, sebagian besar mahasiswa masih mengandalkan uang dari orang tua sebagai sumber pemasukan. Karena itu, mahasiswa perlu bijak dalam mengelola tabungan, termasuk mempertimbangkan investasi sebagai salah satu cara mengembangkan dana atau setidaknya mempertahankan nilainya.
Ia menekankan pentingnya menentukan tujuan investasi sebelum memulai. Setelah tujuan ditetapkan, mahasiswa diminta mempertimbangkan dua faktor utama, yakni potensi keuntungan dan risiko.
Herlina mengingatkan bahwa investasi, khususnya di pasar modal, tidak terlepas dari risiko yang bahkan dapat tergolong tinggi. Karena itu, pemahaman yang matang diperlukan sebelum mengambil keputusan.
Dalam seminar tersebut, Herlina turut memperkenalkan sejumlah instrumen investasi yang dapat diakses mahasiswa. Salah satunya reksa dana yang dinilai lebih terjangkau dan fleksibel. Selain itu, mahasiswa juga dikenalkan pada investasi saham yang tersedia di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Terkait investasi saham, Herlina menegaskan pentingnya membaca prospektus sebelum berinvestasi. Prospektus memuat informasi mengenai perusahaan penerbit efek, kinerja keuangan, serta berbagai risiko yang mungkin dihadapi.
“Di dalam prospektus sudah dijelaskan berbagai risiko, mulai dari ketergantungan terhadap pemasok, bahan baku, hingga risiko hukum. Investor wajib membaca dan memahami isi prospektus sebelum berinvestasi,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa fluktuasi harga saham merupakan hal yang wajar. Karena itu, investor tidak dapat serta-merta menyalahkan pihak tertentu apabila mengalami kerugian.
Di akhir kegiatan, OJK mengingatkan mahasiswa untuk memegang prinsip “2L” dalam berinvestasi, yakni legal dan logis. Legal berarti memastikan produk dan lembaga keuangan telah terdaftar dan diawasi OJK, sedangkan logis berarti menilai apakah keuntungan yang ditawarkan masuk akal.