BERITA TERKINI
OJK Dorong Literasi Pasar Modal untuk Perluas Investor Ritel dan Cegah Investasi Ilegal

OJK Dorong Literasi Pasar Modal untuk Perluas Investor Ritel dan Cegah Investasi Ilegal

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong peningkatan literasi pasar modal sebagai upaya memperluas basis investor domestik sekaligus melindungi masyarakat dari investasi ilegal. Penguatan pemahaman dinilai penting agar publik lebih siap menghadapi berbagai risiko investasi, termasuk penipuan.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, mengatakan literasi keuangan masih menjadi pekerjaan rumah besar. Pernyataan itu disampaikan dalam kegiatan edukasi di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, Kamis, 9 April 2026.

“Masih ada PR besar untuk meningkatkan tingkat literasi keuangan masyarakat dan publik, karena tanpa pemahaman yang memadai tentu rentan. Rentan terbujuk tawaran menggiurkan dari penyelenggara investasi dengan motif tidak baik atau investasi ilegal dan investasi bodong,” ujar Hasan.

Hasan menjelaskan tingkat literasi pasar modal saat ini masih rendah. Berdasarkan survei yang ia sampaikan, angkanya baru sekitar 17,78 persen.

Menurut Hasan, edukasi menjadi kunci agar masyarakat memahami investasi yang benar. Ia juga menilai akses ke pasar modal semakin mudah seiring berkembangnya layanan digital.

“Pasar modal juga menyediakan berbagai peluang investasi menarik yang bisa diakses dengan mudah oleh siapa saja, termasuk adik-adik mahasiswa. Karena sekarang layanan pasar modal itu datang ke ruangan-ruangan kita semua melalui layanan di smartphone kita masing-masing,” kata Hasan.

Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat untuk tetap berhati-hati dalam berinvestasi. Risiko seperti volatilitas harga dan penipuan, menurutnya, masih perlu diwaspadai.

OJK mencatat, hingga Maret 2026 jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai 24,4 juta. Dari jumlah tersebut, 54 persen merupakan generasi muda berusia di bawah 30 tahun.

Di Provinsi Banten, jumlah investor tercatat sekitar 1,2 juta. Angka ini menempatkan Banten sebagai salah satu daerah dengan jumlah investor terbesar secara nasional.

Asisten Administrasi Umum Setda Provinsi Banten, Rina Dewiyanti, menyatakan dukungan terhadap peningkatan literasi keuangan di daerah. Ia menilai pendidikan penting untuk memperluas inklusi keuangan masyarakat.

“Pasar modal bukan hanya sekedar sarana investasi. Ini merupakan salah satu instrumen penting dalam mendukung pembiayaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional maupun daerah,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Fatah Sulaiman, menilai kampus memiliki peran strategis dalam edukasi pasar modal. Perguruan tinggi, menurutnya, dapat menjadi sarana peningkatan pemahaman investasi bagi generasi muda.

“Pemahaman terhadap pasar modal menjadi sebuah kebutuhan bukan lagi sekedar pilihan. Banyak hal yang dapat dipelajari mahasiswa untuk memiliki kecakapan literasi keuangan, pemahaman strategi pengelolaan keuangan dan investasi yang sangat dibutuhkan di masa datang,” kata Fatah.

OJK bersama para pemangku kepentingan juga terus menggelar edukasi melalui program Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu (SEPMT) 2026. Program ini menyasar berbagai kelompok, mulai dari ASN, komunitas perempuan, hingga mahasiswa.

Melalui rangkaian upaya tersebut, OJK berharap literasi dan inklusi keuangan terus meningkat sehingga masyarakat dapat berinvestasi secara aman sekaligus berkontribusi pada perekonomian nasional.