Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis data terbaru aktivitas pasar modal Indonesia hingga akhir kuartal I-2026. Dalam catatan otoritas, terdapat 53 rencana penawaran umum yang sudah masuk dalam daftar antrean atau pipeline.
Dari jumlah tersebut, perhatian tertuju pada 15 perusahaan yang bersiap melakukan penawaran umum perdana saham (IPO). OJK memperkirakan nilai aksi korporasi dari belasan calon emiten baru itu mencapai Rp1,38 triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi menyampaikan bahwa penghimpunan dana korporasi di pasar modal menunjukkan kinerja yang cukup solid di tengah tantangan ekonomi. Hingga akhir Maret 2026, total dana yang berhasil dihimpun (fundraising) tercatat sebesar Rp51,96 triliun.
OJK juga mencatat tren positif pada sejumlah instrumen pendanaan dan perdagangan alternatif. Per Maret 2026, dana yang dihimpun melalui securities crowdfunding (SCF) tercatat Rp18,07 miliar. Sementara itu, volume transaksi pasar derivatif mencapai 34.480 lot.
Di luar instrumen pasar modal konvensional, aktivitas di bursa karbon Indonesia turut menjadi perhatian. OJK mencatat nilai transaksi bursa karbon mencapai Rp93,71 miliar. Selain itu, terdapat 153 pengguna jasa terdaftar dengan volume transaksi sebesar 43.117 CO2e.
Menanggapi perkembangan tersebut, OJK menyatakan akan tetap mewaspadai dampak dinamika global. Otoritas berkomitmen memantau pergerakan pasar serta berkoordinasi dengan self-regulatory organization (SRO) dan pelaku usaha untuk menyiapkan langkah kebijakan yang diperlukan.