Bursa Asia dibuka melemah pada awal perdagangan, seiring investor mencermati ketegangan di Timur Tengah yang berlanjut. Sentimen pasar tertekan setelah Amerika Serikat memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, menyusul pembicaraan antara Washington dan Teheran yang tidak menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 0,84% dan Topix melemah 0,42%. Di Korea Selatan, indeks Kospi merosot 1,83%, sementara Kosdaq yang berisi saham berkapitalisasi kecil turun 1,43%.
Di Australia, indeks S&P/ASX 200 melemah 0,74%. Sementara itu, indeks berjangka Hang Seng Hong Kong berada di level 25.964, dibandingkan penutupan terakhir Hang Seng di 25.893,54.
Kegagalan negosiasi pada akhir pekan di Islamabad kembali memicu kekhawatiran bahwa perang AS-Iran dapat berlangsung lebih lama dari perkiraan. Kondisi ini dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga minyak, yang pada gilirannya dapat membebani perekonomian global.
Harga minyak mentah melonjak pada Minggu setelah pembicaraan berakhir tanpa kesepakatan dan AS bergerak menuju blokade lalu lintas pelabuhan Iran. West Texas Intermediate (WTI) naik 8,56% menjadi US$104,84 per barel pada pukul 20.01 ET. Minyak Brent menguat 8,61% menjadi US$103,38 per barel.
Di sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump dilaporkan mempertimbangkan untuk melanjutkan serangan udara terhadap Iran, menurut Wall Street Journal. Pekan lalu, Trump disebut menyetujui gencatan senjata selama dua minggu sejak Selasa sebagai imbalan atas izin Teheran bagi kapal-kapal untuk melintasi selat tersebut. Sebelumnya, ia juga mengancam akan membom setiap jembatan dan pembangkit listrik di Iran.
Tekanan juga terlihat pada kontrak berjangka di Wall Street. Indeks berjangka Dow Jones Industrial Average turun 517 poin atau 1,1%. Indeks berjangka S&P 500 turun 1,1%, sementara indeks berjangka Nasdaq 100 melemah 1,2%.