Kegagalan Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan damai pada akhir pekan lalu diperkirakan memengaruhi sentimen pasar keuangan global. Sejumlah analis menilai situasi ini berpotensi mendorong peningkatan permintaan terhadap aset aman (safe haven) pada perdagangan Senin (13/4), seiring investor menimbang kembali risiko geopolitik.
Pembicaraan yang berlangsung di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan, mengecewakan pelaku pasar yang sebelumnya meningkatkan eksposur pada aset berisiko setelah muncul sinyal gencatan senjata. Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan delegasi negaranya pulang tanpa hasil, setelah Iran tidak memberikan komitmen terkait penghentian pengembangan senjata nuklir.
Secara umum, dolar AS diperkirakan menguat setelah melemah 1,4% dalam sepekan terakhir. Pada saat yang sama, harga minyak dinilai berpeluang naik, sementara pasar saham berpotensi tertekan. Adapun obligasi pemerintah AS diperkirakan bergerak variatif, dipengaruhi tarik-menarik antara meningkatnya permintaan aset aman dan kekhawatiran inflasi. Harga emas juga dinilai berpeluang menguat.
Meski demikian, reaksi pasar diperkirakan tidak akan terlalu besar apabila investor menilai kegagalan perundingan ini hanya hambatan sementara dalam proses negosiasi menuju perdamaian.
Analis Capital.com Inc., Kyle Rodda, menilai permintaan terhadap obligasi pemerintah AS berpotensi meningkat pada awal perdagangan, namun pergerakannya kemudian dapat berlangsung dua arah. Ia menekankan dinamika harga minyak akan menjadi faktor penting, terutama jika terjadi gangguan di Selat Hormuz yang dapat memicu kenaikan ekspektasi inflasi.
Menurut Rodda, kunci pergerakan pasar terletak pada persepsi investor: apakah kegagalan ini bersifat sementara atau mencerminkan keruntuhan upaya gencatan senjata. Jika dipandang sebagai masalah jangka pendek, sentimen penghindaran risiko bisa cepat mereda. Namun, eskalasi retorika antara AS dan Iran dapat memperpanjang tekanan di pasar.
Sementara itu, Kepala Strategi Investasi Saxo Markets, Charu Chanana, menilai berakhirnya pembicaraan tanpa kesepakatan berpotensi mengikis reli pasar yang terjadi sebelumnya. Ia juga menyoroti peluang kenaikan kembali harga minyak dan melemahnya sentimen risiko, dengan Selat Hormuz tetap menjadi sumber ketidakpastian utama.
Wall Street ditutup beragam
Di tengah penantian hasil pembicaraan AS-Iran, indeks saham AS ditutup beragam pada Jumat (10/4), setelah sempat mencatatkan pekan terbaik sejak November. Dow Jones Industrial Average turun 0,6% ke 47.916,57 dan S&P 500 melemah 0,1% ke 6.816,89. Sementara itu, Nasdaq Composite naik 0,4% ke 22.902,89.
Sepanjang pekan, S&P 500 menguat 3,6%, Dow Jones naik 3%, dan Nasdaq bertambah 4,7%. Ketiga indeks tersebut mencatatkan kenaikan persentase mingguan terbesar sejak November.
Di pasar energi, harga minyak tetap tinggi meski sempat jatuh tajam pada Rabu (8/4) setelah Donald Trump membatalkan ancaman serangan terhadap infrastruktur Iran. Lalu lintas melalui Selat Hormuz dilaporkan masih berada pada sebagian kecil dari tingkat sebelum perang, dengan sebagian besar kapal yang berlayar melalui selat dalam sehari terakhir.
Harga minyak berjangka ditutup melemah. Minyak mentah AS turun USD 1,30 menjadi USD 96,57 per barel, sementara Brent turun 72 sen menjadi USD 95,20 per barel.
Indeks dolar turun 0,2% menjadi 98,68, sekaligus menutup pekan dengan penurunan terbesar sejak Januari. Euro naik 0,25% menjadi USD 1,1728. Dolar AS menguat 0,2% terhadap yen Jepang menjadi 159,3.
Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah AS sedikit meningkat. Imbal hasil obligasi acuan 10 tahun naik 2,4 basis poin menjadi 4,317%, sedangkan imbal hasil obligasi 30 tahun naik 1,1 basis poin menjadi 4,909%. Imbal hasil obligasi dua tahun, yang kerap bergerak searah ekspektasi suku bunga Federal Reserve, naik 1,9 basis poin menjadi 3,802%.
Di pasar logam mulia, harga emas spot turun 0,3% menjadi USD 4.747,88 per ons, sementara harga perak spot naik 1,4% menjadi USD 76,10 per ons.