BERITA TERKINI
Mirae Asset: Rupiah Bertahan di Atas 17.000 dan IHSG di Bawah 7.000 Cerminkan Sentimen Risk-off

Mirae Asset: Rupiah Bertahan di Atas 17.000 dan IHSG di Bawah 7.000 Cerminkan Sentimen Risk-off

PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai daya tahan ekonomi domestik terhadap guncangan eksternal kian terbatas, seiring pelemahan rupiah yang bertahan di atas level 17.000 per dolar AS dan meningkatnya tekanan fiskal di tengah sentimen global yang masih bergejolak.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan pergerakan rupiah di atas level tersebut terjadi saat indeks dolar relatif stabil. Menurut dia, kondisi ini mengindikasikan Bank Indonesia mulai memberi ruang penyesuaian yang lebih besar setelah periode intervensi yang dinilai cukup agresif.

Rully menyebut, pada dua bulan pertama 2026 cadangan devisa turun sekitar USD4,6 miliar dibandingkan posisi akhir 2025. Penurunan itu terjadi seiring pembayaran utang valuta asing dan kebijakan stabilisasi nilai tukar.

Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terkoreksi dan ditutup di bawah level 7.000, mencerminkan sentimen risk-off yang masih dominan. “Pelemahan IHSG yang sempat turun di bawah level 7.000, bersamaan dengan rupiah yang bertahan di atas 17.000, mencerminkan meningkatnya sentimen risk-off di pasar domestik. Dalam kondisi ini, ruang stabilisasi menjadi semakin terbatas, terutama di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi,” ujar Rully dalam keterangan tertulis, Selasa (07/4).

Ia menambahkan, dengan IHSG yang telah terkoreksi hingga 6.917 dan rupiah tetap berada di atas 17.000, tekanan pasar dinilai masih berpotensi berlanjut. Risiko tersebut, menurutnya, meningkat terutama bila arus keluar dana asing naik ke kisaran Rp500 miliar hingga Rp1 triliun per hari dalam jangka pendek.

Ke depan, Mirae Asset memperkirakan tekanan masih berlanjut seiring eskalasi geopolitik dan kenaikan harga minyak, yang umumnya menekan mata uang negara net importir seperti Indonesia.

Dari sisi fiskal, kebijakan pemerintah menahan harga BBM untuk menjaga daya beli disebut turut mendorong defisit APBN hingga Maret 2026 mencapai Rp240,1 triliun atau 0,9% PDB. Angka itu meningkat dari 0,4% pada periode yang sama tahun sebelumnya. “Upaya menjaga stabilitas tetap penting, namun konsekuensinya adalah meningkatnya tekanan terhadap fiskal dan cadangan devisa,” kata Rully.

Pada penutupan perdagangan, IHSG berada di level 6.989,43 atau turun 0,53%. Sementara itu, rupiah tercatat di Rp17.035 per dolar AS. Investor asing juga masih membukukan net sell Rp623 miliar, mencerminkan tekanan pasar yang dinilai masih tinggi di tengah dinamika global.

Adapun Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji, menilai IHSG masih berada dalam fase konsolidasi bearish. Menurutnya, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area support 6.892 hingga 6.731, dengan resistance terdekat di kisaran 7.117 hingga 7.222.

Nafan menambahkan, selama IHSG belum mampu menembus area resistance tersebut, tekanan jual diperkirakan masih mendominasi pergerakan indeks dalam jangka pendek. Di tengah kondisi itu, ia melihat peluang trading selektif pada sejumlah saham.