Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper menuduh Iran dan Rusia memanfaatkan perang di Timur Tengah untuk membajak perekonomian dunia. Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan yang berdampak pada pasar energi global.
Menurut laporan PA Media pada Kamis (2/4), tuduhan tersebut muncul setelah Teheran terus melakukan blokade terhadap jalur pengiriman minyak utama di Selat Hormuz. Jalur ini dikenal sebagai rute strategis bagi distribusi energi dunia.
Pemimpin tertinggi Iran yang baru disebut telah bersumpah untuk melanjutkan serangan terhadap kapal-kapal di jalur tersebut. Langkah itu diklaim sebagai balasan atas serangan berkelanjutan dari Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran.
Blokade di Selat Hormuz memicu guncangan pasar dan mendorong harga minyak melonjak hingga kisaran USD 100 per barel. Kondisi itu dinilai dapat meningkatkan risiko lonjakan inflasi secara signifikan di berbagai negara.
Dalam pernyataannya, Cooper juga menyoroti kedekatan Rusia dan Iran. Ia mengatakan kedua negara memiliki hubungan erat, baik dari sisi teknologi, pendekatan, maupun taktik, dan menilai keduanya berupaya saling mendukung untuk meraih keuntungan bersama dengan cara “menyandera” ekonomi global.