BERITA TERKINI
Mengurai Kesenjangan Kemajuan: Asia Timur Melaju, Indonesia dan Banyak Negara Muslim Masih Tertahan

Mengurai Kesenjangan Kemajuan: Asia Timur Melaju, Indonesia dan Banyak Negara Muslim Masih Tertahan

Dalam beberapa dekade terakhir, kemajuan pesat negara-negara Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok terlihat kontras dengan stagnasi relatif di banyak negara Muslim, termasuk Indonesia. Perbedaan laju pembangunan ini kembali memunculkan pertanyaan tentang faktor-faktor yang menentukan keberhasilan sebuah negara dalam mengejar kemakmuran dan daya saing.

Sejumlah kajian menekankan bahwa kemajuan tidak semata ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, melainkan sangat dipengaruhi kualitas institusi dan tata kelola negara. Dalam kerangka ini, ketertinggalan di sejumlah negara Muslim dipandang sebagai persoalan struktural yang memerlukan pembacaan lebih mendalam, terutama terkait efektivitas pemerintahan, kepastian kebijakan, serta kemampuan negara mengarahkan pembangunan.

Pengalaman Asia Timur menunjukkan peran penting negara dalam membangun fondasi pembangunan. Jepang, misalnya, mampu bangkit dari kehancuran pasca-Perang Dunia II menjadi kekuatan ekonomi global melalui perencanaan industri yang sistematis. Korea Selatan juga menempuh transformasi besar lewat strategi industrialisasi yang terarah dan berbasis ekspor. Pola ini menggarisbawahi bagaimana kebijakan pembangunan yang terencana dan berorientasi jangka panjang dapat mempercepat lompatan ekonomi.

Di sisi lain, banyak negara di dunia Islam masih menghadapi persoalan seperti korupsi, lemahnya institusi, dan konflik politik yang berkepanjangan. Indonesia disebut masih berupaya memperkuat tata kelola pemerintahan agar lebih efektif. Kelemahan institusi tersebut dinilai berdampak langsung pada rendahnya efektivitas pembangunan, sehingga potensi yang dimiliki belum sepenuhnya termanfaatkan.

Pendidikan juga menjadi pembeda yang menonjol. Negara-negara Asia Timur menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama melalui sistem yang kompetitif dan berbasis meritokrasi. Sementara itu, banyak negara Muslim masih bergulat dengan tantangan kualitas pendidikan yang belum merata dan dinilai kurang relevan dengan kebutuhan zaman. Dampaknya terlihat pada daya saing sumber daya manusia yang belum optimal.

Selain pendidikan, budaya kerja kerap disebut sebagai variabel penting dalam menjelaskan kesenjangan kinerja ekonomi. Asia Timur dikenal dengan etos kerja tinggi, disiplin, dan orientasi pada kualitas yang menopang produktivitas secara konsisten. Sebaliknya, sejumlah negara berkembang masih menghadapi tantangan dalam membangun budaya kerja yang kuat dan berkelanjutan, yang pada akhirnya turut memengaruhi hasil pembangunan.

Dari sisi politik, stabilitas dan kesinambungan kebijakan dinilai menjadi kunci keberhasilan Asia Timur. Agenda pembangunan dijalankan secara konsisten dalam jangka panjang. Sebaliknya, dinamika politik di banyak negara Muslim sering mengganggu kontinuitas kebijakan, sehingga proses pembangunan berkelanjutan menjadi lebih sulit dijaga.

Asia Timur juga dinilai lebih berhasil memanfaatkan globalisasi sebagai peluang untuk memperkuat ekonomi domestik, terutama melalui pengembangan industri manufaktur dan teknologi yang berdaya saing. Sebaliknya, banyak negara Muslim masih bergantung pada ekspor komoditas mentah. Ketergantungan semacam ini membuat perekonomian lebih rentan terhadap fluktuasi global.

Secara historis, dunia Islam pernah menjadi pusat peradaban dan ilmu pengetahuan. Namun, kejayaan tersebut tidak berlanjut hingga era modern, ditandai dengan stagnasi dalam pengembangan ilmu dan inovasi. Sejumlah analis melihat faktor kultural dan politik turut memengaruhi dinamika ini, yang kemudian berdampak pada ketertinggalan dalam ekonomi berbasis pengetahuan.

Di luar faktor domestik, ketimpangan dalam sistem ekonomi global juga disebut memperberat situasi. Negara-negara maju cenderung mendominasi sistem ekonomi dunia, sementara negara berkembang berada dalam posisi yang kurang menguntungkan. Kondisi ini dinilai membatasi ruang gerak banyak negara Muslim untuk tumbuh lebih cepat.

Pada akhirnya, ketertinggalan Indonesia dan dunia Islam dipahami sebagai hasil dari berbagai faktor yang saling terkait—mulai dari kualitas institusi, pendidikan, budaya kerja, stabilitas politik, hingga posisi dalam ekonomi global. Sementara itu, pengalaman Asia Timur menunjukkan transformasi besar dapat dicapai melalui penguatan institusi, peningkatan kualitas pendidikan, serta strategi pembangunan yang konsisten dalam jangka panjang.