JAKARTA — Kalangan mahasiswa dinilai masih menjadi kelompok yang rentan melakukan kesalahan dalam pengelolaan keuangan, terutama dalam penggunaan layanan pinjaman daring. Minimnya pemahaman mengenai risiko, bunga, biaya, hingga konsekuensi keterlambatan pembayaran disebut dapat berdampak pada kondisi finansial jangka panjang.
Situasi tersebut menjadi perhatian industri financial technology (fintech), termasuk Kredit Pintar, yang ikut berpartisipasi dalam program edukasi bertajuk Pindar Mengajar: Cerdas Mengelola, Bijak Bertransaksi. Program ini diselenggarakan oleh Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi keuangan, khususnya terkait pendanaan digital di Indonesia.
Kegiatan berlangsung pada Rabu (8/4/2026) di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Riau, Pekanbaru, Riau. Program tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari regulator, asosiasi industri, hingga institusi pendidikan.
Head of Brand & Communications Kredit Pintar, Puji Sukaryadi, menyampaikan bahwa edukasi keuangan penting bagi mahasiswa agar dapat membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak dini. “Kami melihat pentingnya program edukasi ini bagi kalangan mahasiswa sehingga ke depannya program ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa dalam membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak dini, dapat meningkatkan pemahaman tentang pengelolaan keuangan yang bijak dan pemanfaatan layanan pindar secara bertanggung jawab,” ujar Puji dalam keterangan resmi, Jumat (10/4/2026).
Program edukasi ini turut dihadiri sejumlah pemangku kepentingan, antara lain Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Riau Alvi Furwanti Alwie, Kepala Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Riau Triyoga Laksito, serta Direktur Eksekutif AFPI Yasmine Meylia.
Dalam sambutannya, para pemangku kepentingan menekankan pentingnya kolaborasi antara regulator, asosiasi, pelaku industri, dan institusi pendidikan untuk membangun ekosistem keuangan digital yang sehat, transparan, dan bertanggung jawab. Kolaborasi tersebut dinilai menjadi kunci dalam menghadapi perkembangan layanan keuangan berbasis teknologi yang semakin pesat.
Selain membuka akses pembiayaan yang lebih luas, layanan keuangan digital juga dinilai membawa risiko apabila tidak diimbangi pemahaman yang memadai dari pengguna, khususnya generasi muda.
Pada sesi talkshow, Head of Risk Kredit Pintar Revana Aryani menegaskan bahwa pemahaman keuangan merupakan fondasi penting dalam mencapai kemandirian finansial. “Memahami cara mengelola uang adalah langkah awal menuju hidup yang lebih tenang. Dengan literasi yang baik, mahasiswa tidak mudah terjebak penawaran yang menyesatkan, dapat meminjam sesuai kemampuan, serta menjaga kesehatan finansialnya,” ujar Revana.
Ia juga mengingatkan lima hal yang perlu diperhatikan sebelum mengambil pinjaman, yaitu meminjam sesuai kebutuhan, memastikan cicilan sesuai kemampuan, memahami bunga dan biaya, memilih platform yang berizin dan diawasi OJK, serta membayar tepat waktu. Menurutnya, langkah-langkah tersebut menjadi dasar agar mahasiswa dapat memanfaatkan layanan keuangan digital secara bijak dan bertanggung jawab.