LRT Jabodebek mengawali tahun 2026 dengan catatan peningkatan jumlah pengguna. Sepanjang 1 Januari hingga 28 Februari 2026, layanan ini melayani 5,2 juta penumpang, atau rata-rata 88.000 penumpang per hari.
Rata-rata harian tersebut lebih tinggi dibandingkan capaian sepanjang 2025 yang berada di angka 78.900 penumpang per hari. Peningkatan ini mencerminkan tren penggunaan transportasi publik yang terus tumbuh di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodebek).
Manager of Public Relations LRT Jabodebek, Bramantya Candrika, menyampaikan bahwa pada Februari 2026 jumlah pengguna tercatat mencapai 2.530.000 penumpang. Perjalanan pada hari kerja mendominasi, dengan rata-rata 116.714 penumpang per hari, sementara pada akhir pekan tercatat 42.916 penumpang per hari.
“Pola tersebut menunjukkan LRT Jabodebek semakin menjadi bagian dari mobilitas rutin masyarakat, khususnya untuk aktivitas kerja dan perjalanan harian,” ujar Bramantya dalam keterangan resmi, Selasa, 3 Maret.
Sejak mulai beroperasi pada 28 Agustus 2023 hingga 28 Februari 2026, LRT Jabodebek telah melayani total 64,3 juta penumpang. Secara tahunan, pertumbuhan terlihat konsisten, dari 4,6 juta penumpang pada 2023, meningkat menjadi 21,1 juta pada 2024, dan kembali naik menjadi 28,8 juta penumpang pada 2025.
Dari sisi pemanfaatan layanan, rata-rata okupansi harian pada awal 2026 mencapai 32 persen, dengan okupansi hari kerja sebesar 36 persen. Angka ini menunjukkan tingkat keterisian yang semakin optimal, terutama pada periode mobilitas tinggi.
Pergerakan penumpang terbesar tercatat di sejumlah stasiun, antara lain Dukuh Atas, Harjamukti, Kuningan, Cikoko, dan Pancoran. Konektivitas dengan moda lain seperti KRL, MRT, TransJakarta, Biskita, serta layanan penghubung kawasan turut memperkuat kemudahan perjalanan secara terintegrasi.
Kemudahan akses juga didukung oleh sistem pembayaran non-tunai yang semakin beragam. Selain kartu uang elektronik perbankan dan Kartu Multi Trip (KMT), transaksi digital melalui LinkAja, QRIS, dan Access by KAI disebut terus menunjukkan peningkatan seiring pengembangan layanan berbasis teknologi.
Dari aspek pelayanan, LRT Jabodebek menerapkan skema tarif dinamis (dynamic pricing) untuk memberikan fleksibilitas bagi pengguna pada jam sibuk maupun di luar jam sibuk. Peningkatan fasilitas juga dilakukan melalui optimalisasi gate, lift, dan eskalator, penyediaan signage informatif, penguatan integrasi antarmoda, serta peningkatan kebersihan dan kenyamanan area stasiun.
Bramantya menilai pertumbuhan jumlah pengguna menjadi indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan tersebut. “Kami akan terus menjaga keandalan operasional, meningkatkan kualitas layanan, serta memperkuat integrasi dengan moda lain agar masyarakat mendapatkan pengalaman perjalanan yang aman, nyaman, dan efisien,” katanya.
Ke depan, LRT Jabodebek menyatakan akan melanjutkan evaluasi dan penguatan layanan dari sisi operasional, fasilitas, maupun pengalaman pelanggan untuk mendukung mobilitas masyarakat perkotaan yang semakin dinamis dan berkelanjutan.

