BERITA TERKINI
Literasi Keuangan di Sikka Disorot, Warga Dinilai Masih Gunakan Pinjaman untuk Konsumsi

Literasi Keuangan di Sikka Disorot, Warga Dinilai Masih Gunakan Pinjaman untuk Konsumsi

Rendahnya literasi keuangan masih menjadi tantangan serius bagi masyarakat Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kondisi ini dinilai memengaruhi cara warga mengelola uang, termasuk dalam memanfaatkan pinjaman.

Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (DP2KUKM) Kabupaten Sikka, Valerianus Samador, menyoroti adanya perbedaan perilaku keuangan antara masyarakat Indonesia dengan masyarakat Tionghoa maupun masyarakat Makassar dan Bugis. Menurut dia, masyarakat Tionghoa cenderung menggunakan pinjaman untuk pengembangan usaha, mengelola dana pinjaman secara cermat, serta melunasi utang dengan fokus pada pertumbuhan bisnis.

Sebaliknya, Valerianus mengatakan masyarakat NTT, terutama di Sikka, lebih sering menggunakan pinjaman untuk kebutuhan konsumsi. Ia menilai penggunaan pinjaman untuk kegiatan bersifat konsumtif, seperti pesta, merupakan contoh literasi keuangan yang keliru.

“Kalau orang kita pinjam uang untuk pesta pora, itu literasi keuangan yang salah,” ujar Valerianus saat ditemui di Maumere, Rabu (8/4/2026).

Ia menjelaskan, literasi keuangan yang baik juga mengajarkan pentingnya budaya menabung. Menurutnya, menabung tidak semata dilakukan ketika ada sisa uang, melainkan menjadi bagian dari perencanaan keuangan, baik untuk dana darurat maupun kebutuhan masa depan.

Valerianus mencontohkan, perencanaan keuangan diperlukan untuk berbagai acara yang membutuhkan biaya, seperti “sambut baru” atau kegiatan lainnya, sehingga persiapan dapat dilakukan sejak dini.

Untuk meningkatkan pemahaman warga, Valerianus mengatakan pihaknya terus melakukan pendampingan dan sosialisasi literasi keuangan kepada masyarakat, salah satunya melalui koperasi kredit. Menurut dia, koperasi kredit menyediakan beragam produk simpanan yang menawarkan keuntungan bunga, termasuk simpanan hari tua.

Simpanan hari tua disebut dapat menjadi sumber penghasilan ketika memasuki masa pensiun, karena anggota dapat menikmati hasil simpanan yang telah dikumpulkan sejak usia muda. Valerianus juga mencontohkan adanya pensiunan PNS yang memperoleh uang pensiun dan bunga dari simpanan hingga mencapai belasan juta rupiah per bulan, tanpa mengganggu simpanan pokok.

Namun, ia menyayangkan masih banyak masyarakat yang memilih cara-cara yang dianggap lebih mudah tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap kondisi keuangan mereka.