BERITA TERKINI
Laporan ING: Asia Pasifik Jadi Penggerak Utama Keuangan Berkelanjutan pada 2026

Laporan ING: Asia Pasifik Jadi Penggerak Utama Keuangan Berkelanjutan pada 2026

Keuangan berkelanjutan di kawasan Asia Pasifik dinilai tetap stabil dalam beberapa tahun terakhir, meski situasi politik dan ekonomi global bergejolak. Lembaga keuangan global ING memperkirakan tren tersebut berlanjut pada 2026, dengan Asia Pasifik disebut sebagai penyumbang utama bagi pertumbuhan keuangan berkelanjutan dunia ketika pasar di wilayah lain cenderung tidak menentu.

Dalam laporan terbarunya yang dikutip dari Eco-Business, ING mencatat bahwa pada 2025 Asia Pasifik membukukan pertumbuhan tahunan yang kuat pada instrumen obligasi hijau (green bonds) dan pinjaman hijau (green loans). Namun, pinjaman berbasis keberlanjutan serta obligasi transisi tercatat mengalami penurunan tipis.

ING menilai dinamika tersebut terutama didorong oleh aktivitas sektor korporasi dan lembaga keuangan. Sementara itu, kontribusi dari pemerintah, perusahaan supranasional, serta dana kekayaan negara (sovereign funds) dan agensi tercatat sedikit melemah.

Martijn Hoogerwerf, Kepala Sustainable Solutions Group ING di Asia Pasifik, menyatakan bahwa pada 2026 pihaknya memperkirakan pertumbuhan yang lebih besar dari kawasan ini, termasuk peluang meningkatnya penerbitan obligasi transisi seiring berkembangnya kerangka kebijakan di berbagai negara Asia Pasifik. Laporan itu juga menyebut kawasan ini berpotensi melihat kebangkitan kembali utang obligasi transisi pada tahun ini.

Data ING menunjukkan volume keuangan berkelanjutan di Asia Pasifik pada 2025 mencapai rekor tertinggi, didorong oleh banyaknya kesepakatan bisnis. Kinerja yang kuat terutama terjadi pada sembilan bulan pertama 2025, dengan ING berperan sebagai koordinator utama dalam mengatur sebagian besar transaksi keuangan berkelanjutan tersebut.

Anand Sachdev, Country Manager ING Singapura sekaligus Head of South & Southeast Asia, menyebut klien ING di Asia Pasifik semakin memprioritaskan solusi pembiayaan hijau dan transisi yang dinilai praktis serta layak secara finansial. Menurut dia, hal itu menegaskan pentingnya keahlian dalam menyusun struktur pembiayaan untuk mendukung jalur dekarbonisasi yang kredibel.

Sachdev juga menambahkan bahwa kuatnya pasar keuangan berkelanjutan di Asia Pasifik didorong kebutuhan nyata di sejumlah sektor, termasuk energi, infrastruktur, dan penguatan kapasitas digital.

Secara global, total penerbitan instrumen keuangan berkelanjutan pada 2025 mencapai 1,557 triliun dolar AS atau sekitar Rp 26.587 triliun. Nilai tersebut turun sekitar 6,7 persen dibandingkan 2024 yang tercatat sebesar 1,669 triliun dolar AS atau sekitar Rp 28.500 triliun.

Untuk 2026, ING memperkirakan total penerbitan global akan kembali meningkat menjadi sekitar 1,621 triliun dolar AS atau sekitar Rp 27.680 triliun. Meski demikian, ING menilai wilayah Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA) kemungkinan tetap menjadi sumber terbesar keuangan berkelanjutan pada 2026, dengan pertumbuhan lebih banyak didorong oleh pemerintah dan lembaga keuangan, sementara sektor perusahaan justru mengalami penurunan cukup tajam.

Menurut laporan tersebut, salah satu faktor yang memengaruhi tren di EMEA adalah kecenderungan perusahaan beralih ke utang konvensional yang dinilai lebih mudah diakses dan tidak terikat aturan lingkungan, sosial, maupun tata kelola (ESG). ING juga menilai EMEA sudah menjadi pasar yang matang untuk penerapan aturan ESG di kalangan perusahaan, tetapi momentumnya mulai melemah, dengan utang berbasis keberlanjutan (sustainability-linked debt) disebut sebagai titik terlemah saat ini.

Di sisi lain, ING mencatat penerbitan keuangan berkelanjutan di Eropa Tengah dan Timur melonjak tajam. Pada 2025, pertumbuhan di kawasan tersebut mencapai 40 persen, dipimpin oleh pemerintah dan perusahaan negara.

Meski terjadi perubahan tren di berbagai wilayah dan jenis produk, ING tetap menyatakan optimisme terhadap pertumbuhan sektor ini. Laporan itu mencatat awal tahun berjalan cukup kuat, dengan dana sebesar 257 miliar dolar AS atau sekitar Rp 4.388 triliun masuk ke pasar dalam dua bulan pertama, meski pada Maret sempat melambat akibat ketidakstabilan pasar yang dipicu konflik di Timur Tengah.