Johannesburg—KTT G20 2025 resmi ditutup di Johannesburg, Afrika Selatan, pada Minggu dengan menghasilkan Johannesburg Leaders' Declaration. Deklarasi ini menegaskan kembali komitmen global terhadap multilateralisme, reformasi tata kelola ekonomi internasional, serta dukungan bagi negara-negara berkembang yang menghadapi tekanan fiskal dan dampak perubahan iklim.
Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa selaku tuan rumah menyebut deklarasi tersebut sebagai “kemenangan untuk multilateralisme”, terutama karena Amerika Serikat tidak ikut bergabung dalam kesepakatan akhir. Meski demikian, seluruh anggota G20 lainnya menyetujui 122 poin deklarasi yang dipandang penting untuk memperkuat tatanan global berbasis aturan internasional.
Salah satu sorotan utama dalam deklarasi adalah komitmen untuk mereformasi lembaga keuangan global, termasuk Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia. Negara-negara G20 mendorong penguatan representasi negara berkembang, terutama dalam proses pengambilan keputusan dan mekanisme pendanaan. Reformasi ini dinilai krusial agar akses pembiayaan lebih adil bagi negara rentan yang menanggung beban utang tinggi, sekaligus membutuhkan dukungan untuk transisi energi dan ketahanan iklim.
G20 juga menggarisbawahi pentingnya restrukturisasi utang bagi negara berpendapatan rendah dan menengah. Forum tersebut mendesak percepatan implementasi Common Framework serta mendorong kreditor bilateral, termasuk kreditor non-tradisional, untuk meningkatkan transparansi dan kolaborasi. IMF, melalui pernyataan Direktur Pelaksananya, menyatakan kesiapan mendukung negara-negara yang membutuhkan restrukturisasi utang sambil memperkuat kapasitas fiskal mereka.
Di luar isu ekonomi, para pemimpin G20 menempatkan pengelolaan mineral kritis sebagai prioritas. Komoditas strategis ini dipandang penting bagi teknologi energi terbarukan. Deklarasi menyerukan pengembangan rantai nilai yang lebih inklusif agar negara-negara Afrika dan Asia tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan mentah, tetapi juga terlibat dalam pengolahan dan manufaktur bernilai tambah.
Dalam agenda iklim, G20 menyerukan percepatan pendanaan iklim global, termasuk dukungan untuk adaptasi dan mitigasi. Negara berkembang menekankan agar komitmen finansial negara maju sejalan dengan kebutuhan di lapangan, terutama bagi negara-negara yang paling rentan.
KTT G20 Johannesburg disebut menjadi momentum bagi negara-negara Global South yang kian vokal menuntut sistem global yang lebih adil dan representatif. Mengusung tema “Solidarity, Equality, Sustainability,” Afrika Selatan dinilai memanfaatkan momentum geopolitik untuk memperkuat posisi negara berkembang dalam dinamika global.
Deklarasi yang disepakati di Johannesburg diharapkan menjadi dasar bagi negosiasi lanjutan di berbagai forum multilateral, termasuk IMF, Bank Dunia, serta konferensi iklim COP berikutnya. Meski tantangan implementasi masih besar, hasil KTT kali ini dipandang sebagai langkah maju menuju tatanan global yang lebih inklusif dan setara.