BERITA TERKINI
Koperasi di Bac Ninh Beralih ke Rantai Nilai dan Transformasi Digital untuk Tingkatkan Efisiensi

Koperasi di Bac Ninh Beralih ke Rantai Nilai dan Transformasi Digital untuk Tingkatkan Efisiensi

Provinsi Bac Ninh tengah mendorong penguatan ekonomi kolektif melalui pembentukan rantai nilai berbasis teknologi baru. Langkah ini ditandai dengan pergeseran model operasional koperasi—terutama koperasi pertanian—dari pola tradisional yang berfokus pada penyediaan layanan input, menuju produksi yang terhubung dari hulu ke hilir hingga pemasaran dan konsumsi.

Saat ini, Bac Ninh memiliki lebih dari 2.100 koperasi yang bergerak di berbagai bidang, dengan koperasi pertanian masih memegang peran utama. Seiring perkembangan transformasi digital, sejumlah koperasi mulai proaktif menerapkan teknologi, berinvestasi pada mesin dan peralatan, serta menjalankan digitalisasi dalam manajemen produksi, akuntansi, penjualan, ketertelusuran (traceability), dan perdagangan elektronik. Upaya tersebut dinilai membantu koperasi bekerja lebih transparan dan profesional.

Salah satu contoh datang dari Koperasi Produksi dan Bisnis Mie Trai Lam Thuan Huong di Komune Nam Duong. Koperasi ini menginvestasikan lebih dari 2 miliar VND untuk memasang jalur produksi mi kontinu. Sebelumnya, proses produksi menggunakan empat oven manual yang membutuhkan 38–42 jam untuk menyelesaikan satu batch. Setelah menggunakan lini baru, waktu produksi menjadi 20–25 jam per batch, dengan kapasitas 1,2–1,5 ton per hari.

Lini produksi tersebut dapat dioperasikan secara fleksibel menggunakan kayu bakar, gas, atau listrik. Selain memberi kendali lebih besar atas proses produksi dan penghematan biaya, sistem ini juga meningkatkan kualitas produk. Proses pengeringan tidak lagi dilakukan di luar ruangan, sehingga tidak bergantung pada cuaca, serta membantu menjaga keamanan dan kebersihan pangan dengan hasil mi yang lebih seragam.

Selain investasi peralatan, koperasi tersebut juga menerapkan perangkat lunak akuntansi dan manajemen. Direktur koperasi, Nguyen Thi Huong, menyampaikan bahwa meski tenaga kerja mayoritas berasal dari kalangan petani, koperasi menargetkan profesionalisme di seluruh proses. Menurutnya, manajemen terpusat berbasis perangkat lunak membantu mengendalikan bahan baku, produk jadi, piutang, persediaan, hingga pengupahan, sehingga operasional lebih optimal dan layanan kepada mitra meningkat.

Contoh lain adalah Koperasi Peternakan dan Pangan Bersih Tin Nhiem di Kelurahan Tien Phong. Didirikan pada 2016, koperasi ini membangun model produksi sepanjang rantai produksi, mulai dari pembibitan, penyembelihan, hingga pengolahan. Mereka mengembangkan sistem pertanian tertutup seluas lebih dari 3.000 m² dengan sekitar 2.000 ekor babi, yang disebut membantu pengendalian penyakit dan menghasilkan produk aman. Hingga kini, koperasi tersebut memiliki enam produk yang memenuhi standar OCOP.

Direktur koperasi, Luu Van Nhiem, mengatakan bahwa dua tahun lalu unitnya berinvestasi sekitar 4 miliar VND untuk membangun lini pengolahan dengan berbagai peralatan dan mesin. Fasilitas itu digunakan untuk memproduksi sosis, daging olahan, ham, dan bakso. Investasi ini juga memungkinkan koperasi menjual produk dari peternakan afiliasi, memasok sekitar dua ton produk daging babi jadi ke jaringan supermarket Co.op mart dan toko makanan organik, sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan bagi anggota dan petani.

Ketua Serikat Koperasi Provinsi, Pham Minh Hien, menilai transformasi digital telah menjadi tren sekaligus kebutuhan bagi koperasi saat ini. Bac Ninh menargetkan pada 2030 dapat mendirikan setidaknya 80 koperasi baru setiap tahun, serta memastikan 70% koperasi yang ada memperoleh dukungan terkait teknologi informasi, ketertelusuran, dan pemasaran produk pertanian di platform e-commerce.

Dalam Resolusi Kongres Pertama Serikat Koperasi Provinsi periode 2025–2030, ditetapkan tugas untuk memperkuat dukungan penerapan teknologi informasi dan transformasi digital dalam manajemen, produksi, dan bisnis. Resolusi ini juga menekankan penguatan ketertelusuran asal produk, perluasan pemasaran produk pertanian di platform e-commerce, serta target agar lebih dari 80% produk OCOP provinsi diproduksi oleh organisasi ekonomi kolektif pada 2030.

Meski demikian, sektor ekonomi kolektif Bac Ninh masih menghadapi sejumlah tantangan. Banyak koperasi dinilai perlu memperluas produksi dan berinvestasi pada mesin modern, namun terkendala modal dan sulit mengakses pinjaman preferensial. Keterampilan manajemen sebagian pengurus dan infrastruktur digital di beberapa wilayah pedesaan yang belum sinkron juga disebut menghambat transformasi digital. Di sisi lain, penguatan merek, promosi dagang, dan perluasan pasar masih menjadi persoalan bagi banyak koperasi.

Serikat Koperasi Provinsi menyatakan akan terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk meningkatkan kesadaran transformasi digital, sekaligus memberi masukan dan mengusulkan kebijakan preferensial mengenai modal, lahan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Dukungan juga diarahkan pada pelatihan keterampilan digital, penguatan hubungan dengan perusahaan teknologi untuk menyediakan solusi yang sesuai, serta pendampingan pengembangan koperasi ke bidang baru seperti energi dan lingkungan.

Dari sektor kerajinan dan ekspor, Direktur Koperasi Ekspor Bambu dan Rotan Phung Hung di Komune Tan Chi, Dang Ngoc Phung, menyebut transformasi digital diterapkan karena intensitas transaksi dengan mitra asing. Menurutnya, digitalisasi dilakukan di seluruh proses, mulai dari penerimaan permintaan pesanan, desain melalui komputer, hingga penggunaan faktur elektronik untuk meningkatkan kualitas layanan. Koperasi tersebut juga memanfaatkan platform digital untuk promosi dan perluasan basis pelanggan, sekaligus menjaga keberlanjutan lapangan kerja bagi pekerja.

Dengan dukungan kebijakan dan upaya proaktif koperasi, Bac Ninh berharap ekonomi kolektif dapat terus berkembang dan berkontribusi pada tujuan pembangunan ekonomi digital, hijau, dan berkelanjutan.