BERITA TERKINI
Konflik AS-Iran Guncang Pasar Energi, Indonesia Diminta Waspada Risiko Harga Minyak hingga US$150

Konflik AS-Iran Guncang Pasar Energi, Indonesia Diminta Waspada Risiko Harga Minyak hingga US$150

Pasar keuangan global menghadapi periode krusial menyusul konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Situasi tersebut dinilai berpotensi menambah tekanan terhadap perekonomian Indonesia, terutama melalui jalur energi dan perdagangan.

Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, mengatakan dampak konflik sudah terasa signifikan pada perekonomian global, termasuk Indonesia. Salah satu pemicunya adalah gangguan jalur pelayaran tanker minyak di Selat Hormuz.

Menurutnya, sekitar 90% lalu lintas kapal tanker dari jalur tersebut tidak lagi terlihat sejak konflik pecah pada 28 Februari. International Energy Agency (IEA) merespons dengan melepas 400 juta barel cadangan minyak darurat pada 11 Maret. Namun, sejumlah analis memperkirakan cadangan itu hanya mampu bertahan hingga sekitar 19 April.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan fenomena “oil cliff”, yakni saat pasokan cadangan tiba-tiba habis ketika gangguan distribusi belum terselesaikan. Harga minyak Brent disebut telah bertahan di atas US$100, jauh di atas asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia yang berada di US$70.

Tekanan kenaikan harga energi mulai merembet ke sektor riil. Sejumlah industri seperti otomotif, tekstil, farmasi, elektronik, serta makanan dan minuman dilaporkan mengalami kenaikan harga bahan baku akibat terganggunya rantai pasok global.

Fahmi menyebut pemerintah saat ini memilih menyerap selisih harga melalui anggaran subsidi. Namun ia menilai tekanan tersebut akan sulit ditahan apabila eskalasi konflik terus berlanjut.

Ia juga menyoroti keputusan yang akan diambil Amerika Serikat sebagai faktor yang perlu diwaspadai. Presiden AS Donald Trump disebut memberikan ultimatum kepada Iran agar mencapai kesepakatan damai dan membuka kembali jalur pelayaran tanker hingga Selasa pukul 20.00.

Fahmi menilai keputusan Trump berpotensi memunculkan dua skenario besar bagi pasar global yang perlu dicermati pemerintah dan investor karena dapat memengaruhi arah perekonomian global, termasuk Indonesia. Jika eskalasi meningkat, harga minyak berpotensi melonjak ke kisaran US$120 hingga US$150, disertai tekanan luas pada pasar saham, mata uang, dan aset berisiko. Sebaliknya, jika terjadi de-eskalasi, pasar berpeluang mengalami relief rally dengan penguatan tajam pada saham global dan kripto, serta koreksi pada harga minyak.

Ia menilai situasi saat ini sebagai disrupsi energi terbesar sejak krisis minyak 1973 dan berimplikasi serius terhadap stabilitas ekonomi domestik. Fahmi menyebut rupiah berpotensi tertekan, inflasi meningkat, dan anggaran negara menghadapi tekanan fiskal besar. Ia juga mengingatkan bahwa menempatkan seluruh aset dalam rupiah dapat menjadi risiko tersembunyi, sehingga diversifikasi aset dinilai sebagai langkah rasional.

Dalam perkembangan lain, Trump dilaporkan mengancam akan melancarkan serangan terhadap infrastruktur sipil strategis, termasuk pembangkit listrik dan jembatan, jika Iran tidak membuka kembali jalur vital tersebut. Namun Iran menolak proposal gencatan senjata yang diajukan AS dan mengajukan tuntutan balik berupa pencabutan sanksi serta penghentian seluruh operasi militer di Timur Tengah.

Upaya diplomatik terakhir mengerucut pada proposal gencatan senjata selama 45 hari yang dimediasi Pakistan, Mesir, dan Turki. Meski demikian, peluang keberhasilannya disebut semakin menipis seiring meningkatnya eskalasi.