BERITA TERKINI
Konflik AS-Iran Dorong Risiko Perang Ekonomi, Pasokan Energi dan Petrokimia Tertekan

Konflik AS-Iran Dorong Risiko Perang Ekonomi, Pasokan Energi dan Petrokimia Tertekan

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran, dengan keterlibatan Israel, dinilai mulai bergeser dari perang fisik menuju tekanan ekonomi yang lebih luas. Perubahan ini memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi, perlambatan pertumbuhan, serta kenaikan biaya energi dan harga pangan, seiring meningkatnya ketidakpastian pasar global.

Dalam narasi yang berkembang, perang tidak lagi dipandang sebagai konflik singkat yang mudah dipulihkan dampaknya terhadap pasar. Ketidakpastian durasi perang, potensi meluasnya konflik melalui aktor proksi, serta risiko kerusakan infrastruktur energi dan rantai pasok disebut dapat mendorong kenaikan harga minyak, gas, dan produk turunannya.

Minyak mentah dan gas selama ini dikenal sangat sensitif terhadap instabilitas di Timur Tengah. Posisi Iran yang menguasai jalur strategis Selat Hormuz menjadi faktor penting dalam rantai pasok energi global. Penutupan atau blokade Selat Hormuz oleh Iran disebut berpotensi menghambat distribusi sekitar 20 juta barel minyak per hari, sekitar 20% LNG (gas alam cair), serta produk turunannya yang terkait dengan industri petrokimia.

Risiko lain yang disorot adalah gangguan pada fasilitas LNG Qatar di Ras Laffan akibat serangan drone, yang dinilai dapat memengaruhi pasokan ke Asia. Disebutkan bahwa 93% LNG Qatar melewati Selat Hormuz dan memasok hampir 83% kebutuhan gas kawasan Asia.

Ketersediaan gas alam juga berkaitan langsung dengan sektor pertanian. Dalam laporan tersebut, LNG disebut menyumbang sekitar 70–80% bahan baku pembuatan pupuk nitrogen, terutama urea, serta menjadi sumber hidrogen untuk memproduksi amonia (NH3) yang kemudian diproses menjadi pupuk. Jika perang berkepanjangan, produksi pertanian dinilai berisiko terganggu karena keterbatasan pasokan dan kenaikan harga pupuk.

Disebutkan pula bahwa sekitar sepertiga produksi pupuk dunia melewati Selat Hormuz. Apabila terjadi blokade, harga pupuk global rata-rata diperkirakan naik 15–20% pada pertengahan semester 2026. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) disebut memproyeksikan risiko krisis yang lebih panjang sebagai dampak konflik tersebut. Dana Moneter Internasional (IMF) juga dikatakan menilai blokade Hormuz dapat memunculkan kembali krisis gas seperti yang pernah terjadi di Eropa pada 2021–2022.

Kerentanan negara-negara Eropa juga diulas. Inggris dan Italia disebut lebih rentan karena ketergantungan pada pembangkit listrik tenaga gas, sementara Prancis dan Spanyol dinilai relatif lebih terlindungi oleh kapasitas energi nuklir dan terbarukan.

Di tengah situasi itu, stabilitas pasar minyak, gas, dan petrokimia dipandang sangat dipengaruhi keputusan dan langkah dua pihak utama, yakni AS dan Iran. Israel disebut sebagai pihak yang secara politik dapat ditekan AS untuk menghentikan serangan, bergantung pada pilihan kebijakan Washington.

Kondisi ketidakpastian pasar digambarkan memengaruhi perhitungan pelaku ekonomi terhadap harga minyak dan gas, petrokimia, pupuk, hingga komoditas lain. Ketidakpastian ini disebut semakin tajam setelah adanya serangkaian serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk, termasuk fasilitas kilang dan kompleks petrokimia di Arab Saudi, ladang gas dan fasilitas di Uni Emirat Arab, serta fasilitas LNG dan petrokimia di Qatar, selain lokasi lain yang disebutkan dalam laporan.

Konflik juga disebut memunculkan kebijakan tarif bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz. Iran disebut membagi negara pengguna dalam tiga kategori: “hostile state”, “no-hostile state”, dan “friendly state”. Contoh yang disebut sebagai “friendly state” antara lain China, Malaysia, Pakistan, dan India; sementara AS, Israel, dan Inggris digolongkan sebagai “hostile state”. Untuk kategori “no-hostile state”, kapal disebut dapat melintas dengan kewajiban membayar.

Di sisi industri, tekanan terhadap rantai pasok petrokimia dinilai meningkat. Produk petrokimia merupakan bahan kimia dasar yang dihasilkan dari minyak dan gas, meliputi olefin (etilena, propilena, butadiena), aromatika (benzena, toluena, xilena), serta gas sintetis seperti amonia dan metanol. Bahan-bahan ini menjadi fondasi produksi plastik, polimer, karet sintetis, serat, pelarut, hingga bahan baku pupuk.

Olefin seperti etilena disebut penting untuk polietilena, propilena untuk polipropilena, dan butadiena untuk karet. Aromatika seperti benzena menjadi bahan baku nilon, deterjen, dan karet sintetis; toluena untuk pelarut dan bahan peledak; serta xilena untuk serat poliester dan plastik. Amonia disebut sebagai bahan baku utama pupuk seperti urea dan amonium nitrat. Turunan lain yang disebut meliputi naftalena untuk insektisida dan bitumen untuk aspal.

Dalam konteks eskalasi, laporan juga menyinggung serangan terhadap kapal tanker Kuwait Al Salmi di pelabuhan Dubai, yang disebut membawa muatan 2 juta barel minyak dengan nilai sekitar US$ 200 juta. Peristiwa ini dinilai menambah kekhawatiran atas keamanan pasokan energi.

Di tengah tekanan politik domestik dan dinamika konflik, laporan mengutip pemberitaan yang menyebut Presiden AS Donald Trump menyatakan kesediaan mengakhiri perang, bahkan jika Selat Hormuz tetap ditutup Iran, serta menempatkan opsi militer bukan sebagai prioritas.

Memasuki hari ke-31 perang, laporan menyatakan belum ada tanda Iran akan menyerah. Ancaman terhadap pasokan minyak, gas, dan petrokimia dinilai dapat merembet ke industri global, mengingat polimer dan berbagai turunan petrokimia menjadi komponen penting bagi sektor otomotif, konstruksi, elektronik, medis, hingga tekstil.

Di akhir, laporan menekankan bahwa arah berikutnya sangat bergantung pada keputusan politik dan kemungkinan negosiasi antara AS dan Iran. Negosiasi yang menghasilkan kesepakatan dinilai dapat meredakan tekanan terhadap perekonomian global dibandingkan konflik berkepanjangan yang mempertahankan ketidakpastian pasar.