Di tengah terbatasnya katalis positif bagi industri asuransi domestik, perhatian investor turut tertuju pada kinerja emiten asuransi yang tercatat di pasar modal. Industri ini masih dibayangi sejumlah isu, mulai dari merosotnya kinerja unitlink, keberadaan perusahaan dalam pengawasan khusus, gugatan terkait gagal bayar, proses likuidasi yang belum menghasilkan penyelesaian sesuai harapan, hingga gugatan atas pencabutan izin usaha di PTUN. Selain itu, masih ada tantangan pemenuhan syarat modal minimum Rp250 miliar pada akhir 2026 sebagaimana diatur dalam POJK Nomor 23 Tahun 2023.
Meski demikian, sektor saham asuransi di Indonesia disebut menunjukkan pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir seiring meningkatnya permintaan produk asuransi konvensional maupun syariah. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelindungan finansial turut mendorong permintaan, dengan asuransi kendaraan dan asuransi kesehatan menjadi dua kategori yang paling diminati.
Dalam konteks investasi, pemilihan saham asuransi umumnya mempertimbangkan kinerja keuangan, stabilitas manajemen, serta proyeksi pertumbuhan jangka panjang. Pemahaman terhadap profil perusahaan asuransi yang terdaftar di bursa menjadi salah satu dasar bagi investor untuk mengambil keputusan.
Saat ini terdapat 20 perusahaan asuransi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), yaitu PT Panin Financial Tbk (PNLF), PT Paninvest Tbk (PNIN), PT Malacca Trust Wuwungan Insurance Tbk (MTWI), PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU), PT Victoria Insurance Tbk (VINS), PT Asuransi Multi Artha Guna Tbk (AMAG), PT Lippo General Insurance Tbk (LPGI), PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Tbk (LIFE), PT Asuransi Harta Aman Pratama Tbk (AHAP), PT Asuransi Jasa Tania Tbk (ASJT), PT Bhakti Multi Artha Tbk (BHAT), PT Asuransi Dayin Mitra Tbk (ASDM), PT Asuransi Maximus Graha Persada Tbk (ASMI), PT Asuransi Ramayana Tbk (ASRM), PT Asuransi Bintang Tbk (ASBI), PT Maskapai Reasuransi Indonesia Tbk (MREI), PT Asuransi Bina Dana Arta Tbk (ABDA), PT Asuransi Jiwa Syariah Jasa Mitra Abadi Tbk (JMAS), PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII), dan PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk (ZAI).
Untuk emiten dengan nilai kapitalisasi pasar di atas Rp1 triliun, beberapa di antaranya adalah PT Panin Financial Tbk (PNLF) dengan kapitalisasi pasar Rp8,38 triliun. Berikutnya PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU), anak perusahaan PT Pertamina (Persero) Tbk, yang menyediakan layanan asuransi termasuk untuk sektor energi dan kebakaran, dengan kapitalisasi pasar Rp3,69 triliun. PT Paninvest Tbk (PNIN) tercatat memiliki kapitalisasi pasar Rp3,43 triliun. Sementara PT Bhakti Multi Artha Guna Tbk (BHAT) memiliki kapitalisasi pasar Rp1,98 triliun.
Memasuki 2025, kinerja emiten asuransi dilaporkan menunjukkan pertumbuhan pendapatan dan aset yang stabil di tengah tantangan ekonomi. Nilai aset industri asuransi disebut mencapai Rp1,19 kuadriliun per November 2025.
Dari sisi industri, pendapatan premi asuransi jiwa secara industri sempat mengalami kontraksi 2,06% per September 2025, namun hasil investasi melonjak. Untuk asuransi umum, pertumbuhan industri tercatat 5,79% per April 2025.
Kinerja investasi industri asuransi jiwa pada 2025 juga tercatat meningkat, dengan hasil investasi tumbuh 103,1% secara tahunan (year on year/yoy), yang dikaitkan dengan penguatan IHSG dan obligasi.
Pada level emiten, Tugu Insurance (TUGU) membukukan laba bersih Rp711,06 miliar. JMA Syariah (JMAS) mencatat peningkatan laba bersih 42,7%. Sementara PT Asuransi Ramayana Tbk (ASRM) mengalami penurunan laba bersih 55% menjadi Rp21,65 miliar.
PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk (ZAI) mengumumkan pembayaran dividen interim kepada pemegang saham. Keputusan tersebut diambil dalam rapat direksi dan komisaris pada 28 November 2025, dengan total dividen Rp49,9 miliar.
Di sisi lain, PT Asuransi Dayin Mitra Tbk (ASDM)—perusahaan publik yang berdiri pada 1982 dan tercatat di BEI sejak 1989 serta tergabung dalam grup Equity Development Investment—mencatat pertumbuhan kinerja pada semester I/2025. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, laba bersih ASDM meningkat 9,13% yoy menjadi Rp12,07 miliar pada semester I/2025.
Kenaikan tersebut sejalan dengan pertumbuhan premi bruto yang mencapai Rp883,39 miliar pada Juni 2025, naik 10,54% yoy dibandingkan periode yang sama 2024 sebesar Rp799,19 miliar. Pada periode yang sama, klaim bruto meningkat 17,65% yoy menjadi Rp74,84 miliar dari Rp63,61 miliar.
ASDM juga membukukan kenaikan hasil investasi 29,68% yoy menjadi Rp10,66 miliar pada semester I/2025. Total investasi ASDM naik 8,59% dari akhir 2024 sebesar Rp478,88 miliar. Penempatan aset terbesar berada pada deposito Rp155,55 miliar dan efek-efek Rp152,47 miliar.
Selain kinerja operasional, ASDM menyampaikan rencana pembagian dividen tunai untuk tahun buku 2024 sebesar Rp19,2 miliar atau setara Rp50 per saham, sesuai hasil RUPS Tahunan pada 26 Juni 2025.
Di tingkat industri, asuransi umum memasuki momentum penting pada 2025 seiring penerapan standar akuntansi baru PSAK 117. Semester I/2025 menjadi periode pertama laporan keuangan konsolidasian emiten asuransi umum mulai disajikan dengan format baru. Namun, implementasi PSAK 117 juga disebut memengaruhi kinerja keuangan, di mana emiten asuransi umum yang telah menggunakan standar ini cenderung mengalami pelemahan secara tahunan, baik dari sisi hasil jasa asuransi, pendapatan, maupun laba bersih.
Dalam aspek manajemen, ASDM memiliki Direktur Teknik Victor Sanjaya yang disebut berpengalaman panjang di bidang asuransi. Ia memiliki latar belakang pendidikan teknik di Jerman, dengan gelar Dipl.-Ing. dari Technische Universitaet Berlin pada 1983 dan gelar Wirtsch. Dipl.-Ing. dari Technische Fachhochschule Berlin pada 1985. Kariernya di industri asuransi antara lain dimulai di PT Insurindo Loss Adjuster (1987–1989), kemudian berkarier di PT Asuransi Allianz Utama Indonesia hingga menjadi Deputy Managing Director sampai 2011, serta pernah menjabat Komisaris PT Asuransi Allianz Life Indonesia (2008–2011). Ia juga pernah menjadi Managing Director PT MNC Asuransi Indonesia pada awal 2012 dan Komisaris PT MNC Life Assurance (2014–2015), sebelum bergabung dengan ASDM pada 2016 dan diangkat menjadi Direktur Teknik melalui RUPS Tahunan 27 Juni 2016, serta menjadi Direktur Independen pada 14 Juni 2017.
Victor Sanjaya tercatat sebagai Senior Associate The Australian and New Zealand Institute of Insurance and Finance (ANZIIF) pada 2001 dan meraih tingkat Fellow ANZIIF pada 2004. Ia juga disebut menerima penghargaan dari Indonesia Insurance Award pada 2013 dan 2014, serta aktif mengikuti berbagai seminar industri.
Secara keseluruhan, dinamika industri asuransi pada 2025 memperlihatkan kombinasi antara tantangan struktural—termasuk perubahan standar pelaporan dan isu-isu industri—dengan capaian kinerja sejumlah emiten yang tetap menunjukkan pertumbuhan pendapatan, perbaikan hasil investasi, hingga pembagian dividen.