Ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel sejak akhir Februari 2026 mulai memberi tekanan terhadap stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia. Pengamat Ekonomi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Sunarji Harahap, menilai gejolak tersebut bukan sekadar isu internasional, melainkan berpotensi langsung memengaruhi daya beli masyarakat.
Sunarji menyoroti posisi strategis Selat Hormuz di Iran yang disebut menguasai sekitar 20 persen jalur minyak dunia. Menurutnya, bila eskalasi konflik berlanjut hingga mengganggu atau menutup jalur itu, dampaknya bisa serius bagi ketahanan energi nasional. Ia menyebut harga minyak dunia sempat menembus 116 dolar AS per barel dan memperingatkan kondisi akan semakin berat apabila harga tinggi bertahan hingga enam bulan ke depan.
Di dalam negeri, pemerintah masih menahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) melalui subsidi yang dialokasikan dalam APBN. Sunarji memperkirakan kebutuhan subsidi saat ini berada di kisaran Rp90 triliun hingga Rp100 triliun. Namun, ia menilai ruang fiskal pemerintah memiliki batas, terutama jika harga minyak dunia terus meningkat.
Untuk mengantisipasi tekanan terhadap stok dan beban subsidi, pemerintah menerapkan pembatasan kuota harian BBM bersubsidi. Kebijakan itu antara lain menetapkan mobil pribadi maksimal 50 liter per hari, angkutan roda empat maksimal 80 liter per hari, dan kendaraan roda enam maksimal 200 liter per hari. Sunarji menilai pembatasan tersebut merupakan upaya agar stok tidak cepat habis. Ia juga mengingatkan, apabila subsidi membengkak melewati Rp120 triliun, pemerintah berpotensi kesulitan menahan harga tanpa menambah utang negara.
Tekanan juga terlihat pada sektor moneter. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dilaporkan sempat menyentuh level psikologis Rp17.000. Sunarji mengatakan pelemahan rupiah dapat mendorong Bank Indonesia menyesuaikan suku bunga untuk melindungi nilai tukar, yang pada akhirnya bisa berdampak pada beban cicilan masyarakat.
Ia menilai kenaikan suku bunga berpotensi dirasakan langsung oleh masyarakat yang memiliki kredit pemilikan rumah (KPR) maupun kredit kendaraan. Penyesuaian bunga, menurutnya, dapat memengaruhi kondisi keuangan keluarga.
Selain itu, Sunarji menyebut kenaikan harga bahan baku impor mulai merembet ke komoditas harian, seperti plastik, LNG (gas), hingga produk pangan seperti ayam dan telur. Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan terganggunya jalur logistik global yang mendorong kenaikan biaya operasional transportasi.
Menghadapi potensi inflasi yang lebih tinggi, Sunarji mengimbau masyarakat untuk lebih bijak mengelola keuangan dengan menerapkan skala prioritas. Ia juga menyarankan penghematan serta mempertimbangkan penggunaan energi alternatif, seperti kendaraan listrik, jika memungkinkan.
Untuk perlindungan nilai aset, ia merekomendasikan instrumen investasi yang dinilai telah teruji saat krisis. Sunarji menyebut emas sebagai salah satu pilihan karena rekam jejaknya saat terjadi gejolak. Ia juga menilai sektor sawit berpotensi, dengan mengaitkannya pada posisi Indonesia yang menguasai Selat Malaka dalam jalur perdagangan global.
Di sisi lain, pemerintah diharapkan terus memastikan stabilitas pasokan barang pokok agar tidak terjadi panic buying, sembari menjaga disiplin fiskal dalam pengelolaan subsidi energi sepanjang 2026.