Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi perhatian pelaku pasar karena belum menunjukkan tanda mereda. Kebuntuan negosiasi antara Washington dan Teheran belakangan ini memicu kekhawatiran, termasuk terhadap dampaknya pada pergerakan pasar keuangan global.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji, mengatakan dinamika pasar uang global bergerak sangat cepat. Ia menyoroti mayoritas bursa saham di kawasan Asia dan Eropa yang saat ini berada di zona negatif.
Di dalam negeri, Nafan menyebut Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat melemah 1,43 persen, namun berbalik menguat 0,74 persen pada sesi kedua perdagangan. Ia menilai penguatan tersebut kemungkinan didorong sentimen domestik, salah satunya data penjualan ritel Indonesia yang tumbuh di atas ekspektasi.
Nafan menambahkan, dalam situasi ketidakpastian yang tinggi, investor cenderung mengambil sikap lebih berhati-hati atau risk averse. Menurutnya, hal itu wajar terjadi ketika negosiasi mengalami kebuntuan dan harapan de-eskalasi belum terlihat.
Selain pergerakan pasar saham, tekanan juga terlihat pada nilai tukar rupiah yang masih berada di atas level 17.100 per dolar AS. Nafan menyebut rupiah masih cenderung terdepresiasi.
Ia menyampaikan harapan agar Bank Indonesia melakukan intervensi untuk mencegah risiko arus keluar modal yang berkelanjutan. Nafan juga menyinggung kondisi pasar modal yang telah mengalami foreign outflow sebesar Rp32,27 triliun.
Dalam menghadapi situasi tersebut, investor disarankan tetap disiplin menjalankan manajemen risiko dan fokus pada saham dengan fundamental solid. Nafan menilai sektor energi dan material dasar memiliki valuasi yang menarik dengan rasio price to earnings (PE) satu digit.
Di sisi lain, Nafan menyatakan emas masih menjadi pilihan investasi jangka panjang yang dinilai menarik dan relatif aman bagi masyarakat awam. Ia memperkirakan dalam satu dekade ke depan, harga emas berpotensi mencapai angka lima digit.
Ia juga menilai potensi pemotongan suku bunga oleh bank sentral AS, The Fed, dapat menjadi katalis positif bagi harga emas. Kondisi tersebut diharapkan turut membantu memperkuat rupiah serta meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar modal.